Senin, 02 April 2012

PENGEMBANGAN DAN PEMANFAATAN MEMORY KOLEKTIF DAN KAJIAN SEJARAH DALAM PROSES PEMBELAJARAN SEJARAH



PENGEMBANGAN DAN PEMANFAATAN MEMORY KOLEKTIF DAN KAJIAN SEJARAH DALAM PROSES  PEMBELAJARAN SEJARAH


Oleh :
Ahmad  Adaby  Darban


Dari Jurusan Sejarah
Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta
Yogyakarta, Indonesia.

I
Memori kolektif tidak dapat dipisahkan dengan sejarah Lisan, yang didalamnya terdapat penuturan lisan dari para pelaku atau penyaksi suatu peristiwa sejarah tertentu. Dalam memburu sumber lisan para sejarawan akan “berpacu dengan Malaikat”, sebab para sumber lisan memiliki keterbatasan umur dalam kehidupannya, dibandingkan dengan sumber sejarah lainnya, seperti arsip, prasasti, lontara, dan sebagainya. Sumber lisan tidaklah terbatas pada kelompok masyarakat yang berada di lokasi tertentu, namun juga pelisan dapat menjadi sumber lisan dalam peristiwa sejarah yang lingkupnya nasional, dalam hal ini tergantung pada kapasitas tokoh yang menjadi sumber lisan.

            Dalam rangka menyelematkan informasi dari memori sumber lisan, maka sangat diperlukan adanya usaha mengumpulkan dan mengkoleksi informasi lisan tentang peristiwa sejarah sebanyak-banyaknya, atau semaksimal mungkin. Dengan demikian, khususnya untuk sumber sejarah Indonesia Kontemporer akan lebih kaya, dan memiliki wawasan perbandingan sumber yang lebih banyak dan akurat. Untuk kepentingan ini, maka diperlukan adanya sosialisasi pendalaman metode dan praktek Sejarah Lisan, baik bagi para dosen maupun para mahasiswa sejarah dan peminat sejarah. Seperti halnya yang telah dilakukan oleh Arsip Nasional RI beberapa tahun yang lalu, perlu diteruskan, bahkan lebih dikembangkan pada saat ini.
            Selain memburu sumber lisan untuk keperluan Sejarah Lisan dan lebih lanjut dapat digunakan bagi para peneliti/penulis sejarah, juga sangat diperlukan adanya Sosialisasi Memori Kolektif para sumber lisan kepada masyarakat luas, khususnya generasi muda, para pelajar, dan mahasiswa. Adapun media untuk sosialisasi itu, antara lain sering diadakan “Temu Pelaku dan Penyaksi Sejarah dengan Generasi Muda dan Masyarakat Luas”. Aktivitas ini perlu ditangani oleh para sejarawan (MSI dan bekerjasama dengan lembaga-lembag lain.
            Pada bagian pertama makalah ini akan diperkaya dengan proses memburu sumber lisan, mengkritisi sumber lisan dan informasinya, transkripsi, sampai dengan penyimpanan dan pelayanan bagi peneliti yang akan menggunakan hasil Sejarah Lisan.

II
            Memori kolektif yang sengaja disusun sebagai “Buku Ajar” di sekolah-sekolah memiliki peran yang penting baik bagi pendidikan dan sosialisasi sejarah bagi generasi muda. Sebagai buku ajar, memori kolektif sebaiknya dibagi menjadi dua bentuk: bentuk pertama “Buku Ajar yang mengajarkan Sejarah sebagai Ilmu Sejarah”, dan bentuk yang kedua “Buku Ajar Sejarah dalam rangka Pendidikan Nation Building dan Character Building”.

            Bentuk buku ajar yang pertama adalah murni menyajikan Ilmu Sejarah, dalam arti membelajarkan keilmuan sejarah secara substansial, dengan penjelasan keilmuan. Dalam membelajarkan sejarah pada bagian ini tentu saja menggunakan Historical Explanation secara ilmiah, diupayakan bersih dari tujuan/muatan lain selain ilmu sejarah yang dipelajari.

            Bentuk buku ajar yang kedua adalah menyajikan Sejarah sebagai alat dalam rangka membangun karakter dan semangat nasionalisme. Dalam pelaksanaan pembelajaran sejarah pada bentuk ini bermuatan “agar para siswa yang mempelajari sejarah dapat tumbuh jiwa semangat kebangsaan dan cinta tanah air”.
            Sebenarnya dengan bentuk buku ajar yang pertama, para siswa sudah cukup dapat mengetahui dan memahami Sejarah, dari peristiwa satu ke peristiwa lainnya, dengan sendirinya dapat pula mengambil ajaran yang tersirat dalam setiap peristiwa secara jernih. Namun, masih juga banyak pendapat masih diperlukan bentuk buku yang kedua, yaitu mengandung muatan pembentukan karakter kebangsaan. Hal ini dapat dilakukan asalkan muatan-muatan itu tidak mengaburkan makna peristiwa sejarah itu sendiri, dan tidak membelenggu berfikir, serta tidak bernuansa pesan sponsor dari penguasa.

            Dengan demikian, maka mata pelajaran sejarah di sekolah menengah pertama dan sekolah menengah lanjutan (SMU/SMK) perlu diajarkan dua mata pelajaran sejarah yang memiliki target yang berbeda. Dalam hal ini diharapkan para peserta didik akan lebih mengetahui, memahami, dan dapat membedakan tentang Ilmu Sejarah dan Sejarah sebagai pembentuk karakter.

            Selain perbedaan bentuk buku ajar, juga perlu dibedakan ketika menjelaskan peristiwa menurut jenjang studinya. Oleh karena itu peranan Guru Sejarah sangat penting dalam menjelaskan sejarah kepada para siswanya. Sebagai contoh, pendidikan sejarah untuk Sekolah Dasar (SD), sejarah dapat diajarkan dengan pendekatan estetis. Untuk Sekolah Menengah (SLTP), sejarah dapat diajarkan dengan pendekatan Etis. Untuk siswa tingkat SLTA, sejarah dapat diajarkan dengan pendekatan kritis. Mulai di Perguruan Tinggi, sejarah diajarkan secara akademik (Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah, 1995).

III

            Pada bagian ini akan diungkapkan pengalaman lapangan dalam berdialog dengan para Guru Sejarah di SD, SLTP, SLTA di Daerah Istimewa Yogyakarta. Dalam hal ini MSI Yogyakarta dalam programnya mengadakan “Silaturahmi dengan Guru-Guru Sejarah”, dari pengalaman ini dapat dicatat beberapa problematika pembelajaran sejarah, antara lain:
  1. Adanya perasaan terbelenggu bagi guru dalam mengajarkan sejarah
  2. Adanya ketakutan para guru untuk mengembangkan wawasan sejarah kepada muridnya
  3. Dilematis menghadapi siswa yang kritis terhadap sejarah (informasi di luar buku teks sejarah), sedangkan guru kurang merdeka menjalankan materi pelajaran dari luar buku teks.

Di samping tiga problematika di atas, dapat diamati pula bahwa aktualisasi guru sejarah dalam memberikan pelajaran sejarah dirasa banyak yang masih kurang komunikatif dan menyenangkan siswanya. Hal ini setelah diteliti, ternyata lebih dari 50 % guru sejarah bukan hasil dari lulusan PGSM Sejarah.
            Apabila menginginkan pembelajaran sejarah lebih meningkat ke arah pengetahuan dan pemahaman yang sebenarnya, maka diperlukan beberapa usaha untuk membenahinya, sesuai problem yang menimpa para guru sejarah dan penulis buku ajar sejarah.

IV

Pada bagian ini adalah kesimpulan dari seluruh tulisan, yaitu antara lain:
  1. Sejarah Lisan perlu digiatkan dan juga disosialisasikan.
  2. Buku Ajar Sejarah perlu ditinjau kembali, dan dibedakan antara buku ajar Ilmu Sejarah dan Sejarah dalam arti untuk membentuk karakter bangsa.
  3. Diperlukan penyegaran guru-guru sejarah.

Daftar Pustaka

Baum, Willa, K., Oral History for the Local Historical Society. California: Confrence of California Historical Societies, 1969

Davis, Cullom, et al., Oral History: From Tape to Type. Chicago: American Library Association, 1977.

Hoopes, James, Oral History: An Introduction for Students. California: The University og North California Press, 1980.

Humaniora, No. IV-Th. 1997 Artikel A. Adaby Darban, “Sejarah Lisan Memburu Sumber Sejarah dari Para Pelaku dan Penyaksi Sejarah”.

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, No. 018-Th. Ke 5, 09-1999. Artikel A. Adaby Darban, “Strategi Penyempurnaan Kurikulum Sejarah Untuk SD-SLTP-dan SMU”.






Abstrak Makalah / Paper untuk :
“National Seminar on History and Historiography”
“UNDERSTANDING THE PAST; STRENGTHENING THE FUTURE “
Department of History University Brunei Daarussalaam

MENULIS KREATIF; SEBUAH PENGANTAR ( Suplemen Kuliah Menulis Kreatif, Jurusan Sejarah UGM )


Diampu oleh:
Ahmad Adaby Darban dan Uji Nugroho


Mari Menulis
Pada jaman purba, manusia kala itu membuat lukisan simbol tertentu, ornamen, gambar binatang, manusia, tumbuhan, matahari dan sebagainya di dinding-dinding gua tempat mereka tinggal. Tentu saja dengan cara dan bentuk yang sangat sederhana. Ribuan tahun kemudian, ketika kokohnya gedung-gedung beton menaungi manusia modern, orang-orang juga melukis di tembok dengan kata atau simbol-simbol tertentu seperti nama gank, makian dan provoksai. Kedua jaman itu memang sangat jauh berbeda, bahkan berkebalikan, demikian pula manusianya. Hanya saja, “coretan” pada jaman purba atau modern pada dasarnya merepresentasikan ikhtiar manusia untuk mengkomunikasikan ide, gagasan, buah pikiran ataupun pengetahuan yang dimiliki dengan cara dan media yang relatif sama. Dalam hal ini, manusia purba menggunakan simbol gambar sedangkan manusia modern menggunakan latter (huruf), yang merupakan produk jamannya masing-masing. Mengkomunikasikan ide atau gagasan, itulah makna dari aktivitas manusia merangkaikan huruf demi huruf membentuk kata, kemudian membentuk kalimat, paragraf dan seterusnya.
Sejak Manusia mengenal tulisan (latter), dari situlah peradaban modern dimulai. Merle Calvin Ricklefs, sejarawan besar yang amat masyur misalnya, membabak sejarah Indonesia modern dengan dasar mulai digunakannya tulisan dalam sejarah Indonesia. Jika sekarang ini, orang mengapresiasi berbagai temuan dan berbagai ragam progresifitas pada suatu abad dengan menyematkan istilah prices of this (the) century (“hadiah pada abad ini”), tidak berlebihan untuk menjadikan tulisan sebagai prices of the civilization (hadiah peradaban). Tulisan memiliki arti dan kontribusi yang luar biasa penting bagi perkembangan peradaban. Berbagai hal besar dan perubahan penting lahir dari tulisan, menyebar juga berlanjut karena tulisan pula. Dengan tulisan, pemikiran seorang pujangga ratusan tahun silam dapat didiskusikan saat ini, dapat disebarkan hingga ke tempat yang luas tak terbatas. Bahkan S.H. Mintarja yang sudah wafatpun masih berinteraksi dengan pembaca setia cerita silat nusantara melalui Naga Sasra Sabuk Inten ataupun Api di Bukit Menoreh. Tentu dengan tulisan, tanpa perlu sesaji ataupun jailangkung.
Menulis juga membawa bermacam-macam kompensasi. R.J. Caroling, penulis imajinatif yang melahirkan Harry Potter misalnya. Ia mendadak sangat kaya karena hasil karyanya itu. Di lain hal, Fazlur Rahman membawa kemajuan bagi perkembangan keilmuan di dunia Islam abad 20 juga melalui tulisan-tulisannya. Adapula Karl Marx yang dikenal sebagai bapak ideologi komunisme dengan das Kapitalnya. Contoh ironis malah dari Indonesia, hanya karena menulis email, Prita Mulyasari, seorang Ibu rumah tangga pernah ditahan dan pada akhirnya harus membayar Rp204 juta. Demikianlah, kompensasi-kompensasi yang harus dibayarkan dari tulisan menunjukan betapa kuat tulisan berpengarauh dan betapa potensial mentransmisikan perubahan. Oleh karena itu, aktivitas menulis harus bermakna.
Tidak dapat dipungkiri lagi, sebagai “buah peradaban” modern, menulis merupakan kegiatan yang paling banyak dikerjakan. Saat ini dalam hitungan detik saja, jutaan kata-kata, kalimat atau bahkan paragraf  dihasilkan di seluruh penjuru dunia. Manusia modern sangat aktif menulis, terutama menulis SMS, status-coment Facebook, Twiter, Blog, YM dan segala macam jejaring sosial lainnya. Tentu saja hal ini tidak salah hanya saja ada baiknya jika dapat memanfaatkan hadiah peradaban dengan sebaik-bainya. Ibarat kata, lemari es (kulkas) itu bisa digunakan menyimpan baju, tetapi, kulkas akan lebih bermanfaat dan berfungsi optimal sebagaimana mestinya jika dimanfaatkan sebagai refrigerator, untuk membuat es, mengawet-segarkan buah dan sayur.
Untuk itu yang pertama harus disadari bahwa menulis pada dasarnya bukan sekedar aktivitas asal-asalan namun merupakan sebuah “perjuangan menegakan ide atau gagasan”. Karena, apapun bentuk ataupun substansi tulisan yang dihasilkan tetap saja mengkomunikasikan ide atau gagasan. Kalimat “iseng” Wah mati lampu neeh… enaknya ngapain ya seperti yang tertulis dalam ststus Facebook (FB) seseorang, sebenarnya juga merupakan usaha untuk mengkomunikasikan ide. Buktinya status itu dikomentari lebih dari 16 orang. Contoh yang disebutkan tadi merupakan hal sederhana. Jika saja suatu ide mapan ditropang dengan format dan media yang bagus maka hasilnya juga akan sangat baik.

Menulis Kreatif
Terdapat beberapa difinisi untuk mengartikan istilah menulis kreatif. Namun demikian, pada dasrnya menulis kreatif merupakan proses, yakni proses untuk menciptakan atau menemukan gagasan dan melahirkan (mengekspresikan) gagasan itu dalam bentuk tulisan. Dalam sejumlah karya panduan menulis, proses ini bermuara pada empat hal yakni: 1) inspirasi, menemukan atau menciptakan ide/gagasan; 2) inkubasi, memikirkan dan menimbang ide yang didapat matang-matang termasuk menentukan format dan bentuk tulisan; 3) penulisan, mengekspresikan inspirasi dalam tulisan; dan 4) revisi, memperbaiki dan menyempurnakan tulisanyang dihasilkan. Proses ini tidaklah baku, dapat berubah dan mengalami penyesuaian dengan penulisnya. Artinya setiap individu dapat saja berbeda dalam ikhtiar ini. Jika telah terbiasa menulis maka anda bias menentukan proses menulis anda sendiri.
Dalam upaya menelurkan tulisan, hal yang tidak dapat dihindari ialah menentukan bentuk dan jenis tulisan. Ini adalah strategi mengkomunikasikan ide. Untuk mengenal beberapa bentuk dan jenis tulisan akan dibahas di bab selanjutnya. Penentuan bentuk atau jenis tulisan ini penting mengingat idea tau gagasan yang dimiliki penulis sebenarnya memiliki format dan tipe tertentu yang akan mampu dikomunikasikan secara optimal jika diformat melalui bentuk tulisan tertentu. Tentu saja mempunyai teknik pengungkapan yang berbeda satu dengan yang lain. Menentukan bentuk dan jenis tulisan ini merupakan bagian dari mengatur sebuah tulisan. Begini ilustrasinya,
Kebanyakan orang sangat senang berbelanja di mall bahkan kegiatan berbelanja modern ini telah menjadi aktivisme yang amat digemari tak ubahnya rekreasi. Begitu masuk mall, suasana sejuk memberi kenyamanan sehingga konsumen betah. Tampilannya pun dirancang sedemikan rupa supaya memikat para pembeli. Belum lagi para sales yang dengan ramah melayani. Adapun rak-rak berjajar teratur. Ada rak makanan di sana, pakaian di situ dan furniture di sini. Dengan mudah konsumen akan memilih mana yang akan dibeli. Bayangkan, bagaimana jika barang-barang itu tidak diatur! Sayuran, bumbu dan terasi, pakaian dalam, kaus kaki, paku-palu dan gergaji, buku, mainan anak, kosmetik dan telvisi dicampur menjadi satu. Tentu saja tidak nyaman untuk memilih terasi dirak pakaian dalam bukan?
            Kurang lebih, demikan pula dalam menulis. Ada jutaan idea yang harus disusun secara kreatif agar pembaca nyaman dan gagasan pokok dapat lancar dikomunikasikan. Satu ide utama harus ditunjukan, kemudian dijelaskan, dan diperkuat dengan unsur-unsur pendukung lainnya. Jika satu ide utama yang cerdas, langsung diteruskan dengan ide utama yang lain dalam satu paragraf maka hasilnya adalah paragraf yang tidak cerdas. Misalnya ide utama adalah “perempuan yang cantik” hendaknya ditopang dengan penjelasan mengapa “cantik”, karena cantik bersifat relatif sehingga perlu ditunjukan kecantikannya. Maka masukan unsure-unsur yang mendukung “perempuan yang cantik” itu. Sebaliknya jika ide utama adalah “perempuan yang cantik” langsung diteruskan dengan ide utama yang lain misalnya “anak orang kaya” maka hasilnya tidak jauh berbeda dengan menyusun sayur di rak kosmetik.
Ibarat kesejukan mall yang nyaman dengan tata rapi yang memikat, hal lain yang perlu diperhatikan dalam menulis ialah berikan pula kenyamanan bagi para pembaca, pikat mata para pembaca hingga tidak mampu beranjak dari tulisan. Ada beberapa cara yang bias dilakukan, misalnya membuat judul yang “hot”, lead (kalimat pembuka paragraf/tulisan) yang membuat penasaran, member tekanan pada bagian tertentu dan lain sebagainya. Jika cerita itu bersambung, teknik Asmaraman Ko Ping Ho dan S.H Mintarja, nampaknya masih menjadi strategi yang mujarab. Ditiap episode, kedua penulis cerita bersambung itu selalu mengakhiri kisahnya pada saat-saat yang menegangkan. Alhasil pembacanya tidak sabar untuk membaca kelanjutan cerita berikutnya.
Teknik menulis merupakan hal yang sangat pokok akan tetapi hanya beberapa saja yang akan dibicarakan di sini. Agar tulisan memiliki karakter dan evektif perhatikan struktur kalimat. Kalimat punya syarat yakni memiliki S (Subyek) dan P (Predikat). Adapun O (obejek) dan anak kalimat dapat ditambahkan kemudian. Begitu juga penggunaan kalimat pasif dan aktif patut untuk dicermati pula, tentu saja bukan lagi hal yang terlalu rumit. Perhatikan pula diksi (pemilihan kata) karena memilih kata yang tepat dan mudah dipahami merupakan cara yang bijak. Meskipun kata “bapak” dan “papi” dapat merujuk pada obyek yang sama, tetapi berbeda dalam penggunaan karena sangat terkait dengan rasa kebahasaan. Ambillah contoh “papi menggembala kerbau” dan “bapak menggembala kerbau”. Jika kaidah-kaidah dasar seperti yang dijelaskan telah dikuasai maka aktivitas menulis bukan hanya kegiatan merangkai kata-kata saja namun juga memiliki nilai seni dan keindahan.

Sekilas Mengenal Beberapa Jenis dan Bentuk Tulisan
Dunia tulis menulis dewasa ini telah sangat kaya dengan berbagai jenis tulisan. Ada dikenal tulisan fiksi (fiksi ilmiah dan fiksi imaginative) dan  non fiksi. Adapula macamnya seperti: cerpen, novel, roman, scenario film-naskah drama, puisi, sajak, pantun, reportase, jurnalistik sastra, jurnal, opini, kolom, testimony, artikel, esai, makalah dan feature. Masing-masing jenis tulisan itu memiliki bentuk yang berbeda. Bolehlah sekarang kita berkenalan secara singkat beberapa diantaranya saja.
Cerpen (cerita pendek), novel-novelet, roman: Menurut Jacob Sumardjo dalam karya fiksi dikenal dua pembeda yakni cerpan dengan novel dan roman. Cerpen dimasukan Prof. Kuntowijoyo dalam “sastra koran”, khas Indonesia. Cerpen ini merupakan cerita ringkas yang habis dibaca sekali duduk. Novel dan roman merupakan cerita fiksi yang lebih panjang, otomatis juga berisi lebih dari satu cerita pokok. Sedangkan novelt tak jauh beda dengan novel; tetapi masih memiliki batasan halaman.

Scenario film- naskah drama, Skenario adalah naskah yang berisi adegan, adegan, dan arahan. Misalkan
Fade in, pawn down: (gerak kamera, mendekat-menjauh, diambil dari bawah ke atas)
Bob (Richard Gere) (tokoh-aktor)
(Beranjak dari kursi) (acting)
Sial sekali aku hari ini, harus menemui lelaki gemuk itu lagi! (dialog)
Adapun naskah drama adalah karangan yang berisi cerita atau lakon. Sebagai karangan naskah drama bukanlah cerita utuh dan langsung namun mempunyai dialog yang menggambarkan alur peristiwa secara tidak langsung. Isi dari naskah drama ini adalah dialog-dialog dari para tokoh, didalamnya terdapat: penciptaan seting, pengkarakteran tokoh, dan konflik.

puisi, sajak, pantun. Puisi karangan berisi kalimat pendek dan ringkas yang merupakan intisari dari kata-kata yang indah dan disusun dengan indah, semacam dramatisasi kata-kata. Sajak kadang disamakan dengan puisi namun pada dasarnya sajak merupakan individu dari puisi.

Jurnalistik: reportase, feature-jurnalistik sasatra. Yang meliputi proses meliput, mengolah dan menyebarkan. JOURNAL atau DU-JOUR berarti HARI, maksunnya—kurang lebih—setiap warta tercetak setiap hari (Assegaf 1985: 10). Journal dalam bahasa inggris diartikan sebagai majalah, surat kabar atau diary (catatan harian) adapun Jurnalistik diartikan sebagai kewartawanan. Nah, sekarang orang melekatkan Jurnalistik dengan Pers, hal ini terkait dengan perkembangan teknologi percetakan yang semakin hebat. Kata press (Inggris) berarti mesin pencetak.
Untuk mendifinisikan jurnalistik, kalimat sederhana ini hematnya bisa dipakai: Jurnalistik adalah proses meliput, mengolah dan menyebarkan peristiwa kepada khalayak melalui media cetak ataupun visual.
a.    Berita:
News is difficult to define because it involves m,any variable factors (Clerence Hach). Kata Irving Resenthal, Berita lebih mudah dikenali daripada diberi batasan.
If a dog bit a man, it is not news. But if a man bit a dog is news (Notclife)
1.    News hunting/getting/gathering: reportase, wawancara, riset kepustakaan
2.    News processing
3.    News writing
4.    News editing & publishing

b.    Feature :
Tulisan kreatif terutama dirancang untuk memberi informasi sambil menghibur tentang suatu hal, situasi dan aspek kehidupan seseorang. (Williamson, 1975).
Feature karangan lengkap nonfiksi bukan lempang sekedar berita panjang dalam media masa.

Opini: setiap koran biasanya mengkhususkan satu halam sebagai halaman opini, yang menerima tulisan dari luar. Opini: mewakili pandangan penulis tentang sesuatu hal atau peristiwa. Yang memiliki unsure Subyektifitas dan Persuasif
jurnal, opini, kolom
Esai adalah ekspresi tertulis dari opini penulisnya dapat berupa penggabungan sederet fakta-fakta kemudian mengikatnya melalui síntesis.
Artikel adalah bentuk karangan yang berisi analisis suatu fenomena alam atau sosial dengan maksud untuk menjelaskan siapa, apa, kapan, dimana, bagaimana dan mengapa fenomena alam atau social tersebut.

Format Media

Selain mengetahui hal-hal diatas ada baiknya juga jika penulis mengetahui format media. Kaitannya ialah dengan segmentasi pembaca, satu bentuk media akan dikonsumsi oleh pembaca yang berbeda sehingga format media ini merupakan pertimbangan atas kecocokan bagi pembaca, sesuai karakter pembaca itu sendiri. Pertimbangan kedua yang perlu diperhatikan dalam memilih format media adalah karakter fisik setiap format, karakter isi, periodisitas, kemudahan proses produksi, biaya, dan citra yang dikehendaki. Media, pada masa kini, jenisnya sangat beragam. Ada elektronik, cetak dan cyber. Kali ini akan dibahas beberapa fiormat media cetak dengan asumsi, elektronik dan cyber batasnnya lebih longgar. Adapun tulisan pada bagian ini disarikan dari Ashadi Siregar dan Rondang Pasaribu, Bagaimana Mengelola Media Korporasi-Organisasi (Yogyakarta: Kanisius, 2000).
Dikenal beberapa format Media, seperti "newsletter", majalah, tabloid, atau surat kabar. Setiap format memiliki karakter masing-masing, tentusaja ada kelebihan dan kekurangan khususnya dalam hal efektivitas penyampaian informasi. Untuk membantu pemahaman yang lebih baik, uraian berikut akan menjelaskan lebih rinci karakter setiap format.
"Newsletter"
1.    "Newsletter" umumnya menggunakan kertas HVS (atau kertas berkualitas lebih baik). Ukuran kertas yang digunakan biasanya A4 atau sedikit lebih kecil. Jumlah halaman berkisar antara 4 dan 12 halaman atau lebih. "Newsletter" bisa dijilid, bisa pula tidak dijilid. "Newsletter" lebih mudah dan lebih cepat diproduksi. Biasanya produksi juga lebih rendah.
2.    Tulisan yang dimuat pada "newsletter" biasanya lebih pendek. Kalimat yang digunakan lebih ringkas dan langsung ke pokok masalah.
3.    Sampul depan "newsletter", selain menampilkan nama media, tanggal terbit dan nomor edisi, juga memuat daftar isi dan sebuah tulisan lengkap. Kebanyakan "newsletter" tidak memuat foto. Halaman "newsletter" biasanya dibagi atas 2 -- 3 kolom.
4.    Ditilik dari segi kemudahan proses produksi, format "newsletter" yang biasanya tak banyak memuat foto dan hanya menggunakan dua warna, lebih mudah dikerjakan ketimbang format majalah, tabloid, atau surat kabar.
Majalah
1.  Selain menggunakan kertas koran untuk halaman dalam, majalah juga menggunakan kertas HVS atau kertas jenis lain yang lebih baik kualitasnya. Kertas yang digunakan berukuran A4 atau sedikit lebih besar. Namun, ada pula majalah yang menggunakan ukuran lebih kecil, seperti "Intisari" atau "Reader`s Digest".
2.  Sampul majalah banyak menggunakan kertas yang lebih tebal dan berkualitas lebih baik ketimbang halaman dalamnya. Dengan demikian, kualitas cetak sampul bisa diupayakan lebih baik, agar tampak lebih menarik.
3.  Tampilan majalah tampak lebih serius dan dijilid dengan baik sehingga cocok untuk didokumentasi. Untuk media korporasi/organisasi, jumlah halaman sekitar 16 -- 24 halaman, atau lebih. Majalah bisa memuat tulisan yang lebih banyak dan lebih panjang. Halaman majalah biasanya dibagi atas 2 -- 4 kolom.
Tabloid
1.    Tabloid kebanyakan menggunakan kertas koran. Ukuran kertas yang digunakan sekitar setengah kali ukuran kertas koran. Sampul tabloid umumnya juga menggunakan jenis kertas yang sama dengan jenis kertas yang digunakan pada halaman dalam.
2.    Tampilan tabloid tampak lebih populer. Bisa dicetak dua warna atau lebih. Penataan perwajahan tabloid merupakan paduan antara desain yang ditetapkan pada majalah dan surat kabar. Halaman tabloid biasanya dibagi atas 3 -- 5 kolom.
3.    Tabloid umumnya tidak dijilid. Jadi, suatu edisi bisa dibaca bersama-sama oleh beberapa orang, masing-masing satu lembar terpisah. Untuk media korporasi/organisasi, jumlah halaman tabloid yang biasa digunakan sekitar 8 -- 16 halaman.
Surat kabar
1.    Mempersiapkan format surat kabar sedikit lebih sukar ketimbang format lainnya. Satu halaman surat kabar biasanya memuat sejumlah item tulisan. Oleh sebab itu, perlu ditata secara baik agar tampak menarik dan mudah dibaca.
2.    Surat kabar tidak dijilid. Jadi, dapat dibaca bersama-sama oleh sejumlah orang, masing-masing membaca lembar yang berbeda, asal tulisan yang bersambung tidak terdapat pada lembar yang berbeda. Di Indonesia, ukuran kertas yang digunakan adalah sekitar 42 cm x 58 cm. Jenis kertas yang digunakan adalah kertas koran.
3.    Halaman surat kabar biasanya dibagi atas sejumlah kolom, biasanya 7 -- 9 kolom. Pola desain halaman surat kabar belakangan ini banyak menggunakan pola modular (pola yang memungkinkan halaman dibagi atas sejumlah bidang persegi empat, bisa membujur dari atas ke bawah, bisa melintang dari kiri ke kanan).
4.    Karena menggunakan kertas koran, kualitas cetak surat kabar tidak sebaik kualitas cetak majalah yang menggunakan kertas HVS atau sejenis. Karena itu, belasan tahun lalu warna jarang digunakan untuk surat kabar. Meskipun demikian, berkat perkembangan teknologi, penggunaan warna pada tampilan surat kabar sudah semakin populer akhir-akhir ini.

Demikanlah sebuah pengantar tentang Menulis Kreatif yang dapat disampaikan dalam forum ini. Dengan harapan dapat menggelitik dan dapat memberikan motivasi pada semuanya. Kita semua harus yakin, bahwa sesungguhnya “kita punya kemampuan”, sekarang yang penting bangkitkan “kita punya kemauan” untuk menulis, insya Allah akan dapat sukses.

The Fight of Kyai Kajoran Against Susuhunan Amangkurat First ( MATARAM, 1946 – 1980 )









The Fight of Kyai Kajoran Against
Susuhunan Amangkurat  First
( MATARAM, 1946 – 1980 )

by
Ahmad Adaby Darban

Persembahan untuk 70 Tahun
Prof. Dr. Djoko Suryo, 30 Desember 1939 – 30 Desember 2009

                                                                     I

INTRODUCTION

The Mataram kingdom was an Islamic empire in Central and East Java, and in the bureaucra­tic system the ulama held office as reprecenta­tive of the religious institution. The function of the ulama in the Mataram kingdom was to advi­ce the king on religious and ceremonial mat­ters Besides, the ulama lived in the rural areas, He was the leader of Pondok Pesantren (the institution of Islamic education), and was the informal leader in the rural areas.
Before Sunan Amangkurat I became ruler in the Mataram kingdom, between the king of the Mataram kingdom and the ulama there was institutionalised relationship. However, when Sunan Amangkurat I became ruler in the Mataram kingdom, a conflict erupted with the ulama.
This paper proposes to explain the conflict between Sunan Amangkurat I (the king of the Mataram kingdom) and Kyai Kajoran (the ulama and the informal leaders in the rural area “Desa Kajoran”). The period of the conflict was 1646 ‑ 1680. The set of problems that pro­voked the conflict were the new policies and the actions of the king in the Mataram kingdom on frienship with the Dutch and the role of religious institutions in the state.
The conflict came from inside the Mataram dynasty, in particular from the ulama Kyai Ka­joran and Raden Trunajaya (who belonged to the aristocratic family of Madura, and was the son­ in law of Kyai Kajoran). The result was that Sunan Amangkurat I was dethroned.
This paper uses the social history approach. This approach is intended to explain the relation of the ulama to rural society. The role of the ulama was as an informal leader and key person in the rural areas. Besides, the social history approach is desigued to explain the relation of the ulama and the king in the bureacratic structure of the Mataram kingdom.


II

THE NATURE OF THE CONNECTION BETWEEN KYAI KAJORAN AND THE MATARAM DYNASTY

In the Mataram kingdom there were three types of ulama: The first ulama was the abdi dalem (the ulama who was the servant of the king in the bureaucratic structure). The second ulama came from the aristocratic family. The third ulama came from the rural areas, was the leader of Pondok Pesantren,and was the informal leader in the rural areas.1
Kyai kajoran was an ulama who came from the aristocratic family and was the country ulama. Pangeran Raden Ing Kajoran (the father of Kyai Kajoran) was the son in law of Panembahan Senopati (the founder of the Mataram kingdom). Pangeran Raden Ing Kajoran married Raden Ayu Wangsacipta (the daughter of Panembahan Senopa­ti)2, and had a son Kyai Kajoran. Therefore Kyai Kajoran was the grandchild of Panembahan Senopati, and he had the title of a member of the aristocratic family of the Mataram dynasty. This title was Raden and he was known as Panembahan Rama, because he had the respect of the king of the Mataram kingdom and he had the respect of some people in the rural areas.3
In this paper I shall use Kyai Kajoran for his name, in order to distinguished between Pangeran Raden Ing Kajoran and Kyai Kajoran. Besides it is necessary to make it clear who fought Sunan Amangkurat I.
Although Kyai Kajoran was from an aristocratic family, he preferred to live in the rural areas, because he headed the pondok pesantren. As a teacher of the Islamic religion, he preferred to be close to the people. Therefore, Kyai Kajoran was an influential ulama for people, as informal leader in the rural areas.
Kyai Kajoran was known as a devoted muslem. In addition he was known as the sacred person and as dukun (the man who can cure all deseases). The king of the Mataram kingdom often called for help to Kyai Kajoran to heal the sick. Sunan Amangkurat had called on Kyai Kajoran for help to heal his sick son.4
The mataram dynasty had respect for Kyai Kajoran, because he was sakti (the man with supernatural power), and was an ascetic.5 Therefore, between Kyai Kajoran and the Mataram Dynasty there was a close relationship. This relationship between Kyai Kajoran and the Mataram dynasty continued on at first with the new policies and actions of Sunan Amangkurat I. But the new policies and actions of Sunan Amangkurat I eventually offended Kyai Kajoran.

III

THE ROLE OF ULAMA IN THE MATARAM KINGDOM
BEFORE SUNAN AMANGKURAT I

            In the period when Sultan Agung (1613 ‑ 1646) was the ruler in the Mataram kingdom (before Sunan Amangkurat I), the ulama supported his government. Sultan Agung cherised the ulama because was a member of religious elite, and because he was a scholar.6 The ulama was adviser to the king on both religious matters and secular policy. Besides the ulama the bureaucratic elite in the structure of the Mataram kingdom, whose office was known as Pengulu (the department of Islamic religion). One of the important functions of the ulama was to conduct marriage ceremonies of the king and other members of the aristocratic family.
The country ulama was able to give support to the Mataram kingdom because he was in charge of the army reserves. The country ulama had santri (the student of pondok pesantren ) who were trained in Pencak Silat self defense). If the Mataram kingdom was in need of army reserves, the ulama came forward as the leader of rural troops. When Sultan Agung made a move on Surabaya in 1624, seven thousand of the Wiratani troops fought.7
Sultan Agung created the Mahkamah Syari'ah (the institution of Islamic Law). The ulama had the who position in the Mahkamah Syari'ah. Besides supplied the Lemah Perdikan (the land Sultan Agung with tax free) for the country ulama. The Lemah Perdikan was for seviced as mosque, pondok pesantren and grave.
The relationship between the ulama and the king of the Mataram kingdom in the Sultan Agung's period. because he respected of the religious norms. But the relationship between the ulama and the king of the Mataram kingdom was in trouble if the king de­viated from religious norms.8 Besides if the king acted arbitrarily to words his people, the ulama was not loyal to the king. Only the ulama had enaugh courage to fight the king.
When Sultan Agung was king of the Mataram kingdom he was successful in his relationship with the ulama. In fact, the ulama supported Sultan Agung in his goverenment.

IV

THE GOVERNMENT OF SUNAN AMANGKURAT I
IN THE MATARAM KINGDOM
( 1646 – 1677 )

Mas Syayidin was the child name of Sunan Amangkurat I. He was born in 1619, the son of Sultan Agung and Ratu Kulon.9 When he became prince of the Mataram kingdom, he was given the name Arya Mataram.10
Sunan Amangkurat I's experiences as a child ,greatly influenced the way he ruled. Mas Sayidin was not interested in Islamic lesson, because he preferred to get involved with a Dutchman who was a prisoner of the Mataram kingdom, and this influenced his personality.11 Therefore, when Sunan Amangkurat I became ruler, he befriended the V.0.C. (Vereeniging Oost Indische Compagnie).
In 1646 Sultan Agung the king of the Mataram kingdom, died and Sunan Amangkurat I became ruler in the Mataram kingdom as the king's succesor. He pursued new   policies and actions a far cry from Sultan Agung's rule. Before Sunan Amangkurat I became ruler, the Mataram kingdom opposed V.0.C..
Sultan Agung attacked Batavia ( 1628 ‑ 1629 ). In this war, J.P. Coen (Governor General V.0.C.) died. Sultan Agung fought against the V.0.C. occupation of Java. By contrast, the new policies of Sunan Amang­kurat I friendship with V.0.C.. In 1646 Sunan Amang­kurat I initiated afriendship treaty with V.0.C..
The friendship between Sunan Amangkurat I and V.0.C.was at the bottom of the distrubances which followed in the Mataram kingdom.12 The new which also con­tributed to there disturbances policies and actions of Sunan Amangkurat I were, among others: the secu­larization of the power structure; the Pangeran Alit affair; the Ratu Malang affair; the Roro Oyi Affair,and, finally the Alun‑alun Pleret affair.
            Sunan Amangkurat I was secular the power struc­ture. He suspended Mahkamah syari'ah (the depart­ment of Islamic law). Besides he suspended the re­ligious institutions in the Mataram kingdom.13
The Babad Tanah Jawi (a Javanese source) and Van Goens reperted (a Dutch source) say Sunan Amangkurat I ruled with violence. Pangeran Alit (the younger brother of Sunan Amangkurat I) protested about the new policies and actions of Sunan Amang­kurat I. Pangeran Alit was in revolt against Sunan Amangkurat I, so Sunan Amangkurat I murdered his brother.
Ratu Malang was the favourite wife of Sunan Amangkurat I. The sudde who of Ratu Malang in 1667 made Sunan Amangkurat I angry. He claimed that some of his wives had killed Ratu Malang. Therefore Sunan Amangkurat I killed forty‑three wives in the house.14
There was also a dispute between Sunan Amangkurat I and his son Adipati Anom over Roro Oyi, seng­keran (the mistress) of Sunan Amangkurat I. Before Sunan Amangkurat I slep with Roro Oyi, Adipati Anom took Roro Ayi away to Surabaya. Adipati Anom married Roro Oyi in Pangeran Pekik's house (Pangeran Pekik was the father of Sunan Amangkurat I's first wife Ratu Kulon, and so was father – in ‑ law of Sunan Amang­kurat I). Sunan Amangkurat I was very angry. He burned down Adipati Anom's house and he killed Pa­ngeran Pekik. Then , Sunan Amangkurat I rounded up Adipati Anom and Roro Oyi. Sunan Amangkurat I or­dered Adipati Anom to kill Roro Oyi. After that, Sunan Amangkurat I banished Adipati Anom to Lipura (the south beach of Central Java).
In date Sunan Amangkurat I murdered the ulama at Alun‑alun Pleret. Sunan Amangkurat I eliminated the role of the ulama in Mataram kingdom, because the ulama resisted of the new policies and actions of Sunan Amangkurat I. In 1670 Sunan Amangkurat I assembled the ulama in the Alun‑alun Pleret (in front of the Sunan's Palace or Kraton).
Six thousand or so ulamas and their families were made to assemble at Alun-alun Pleret, Then, Sunan Amangkutar I's troops killed ulamas and their families alltogether.15
Kyai Kajoran was safe from the Slaughter, because he came not to Alun‑alun Pleret. The Alun‑alun Pleret Affair made Kyai Kajoran had very angry, then, he resented to Sunan Amangkurat I.

V

THE FIGHT OF KYAI KAJORAN

The policies and actions of Sunan Amangkurat I was maked social unrest in the Mataram kingdom. The aristocratic family in the Mataram kingdom split up, because the part of the aristocratic family resented to Sunan Amangkurat I.
Adipati Anom (the son of Sunan Amangkurat I) held a grudge against his father. Therefore he begged for allied fight Sunan Amangkurat I. Adipati Anom pleaded with Kyai Kajoran in order to support him.
Trunajaya was from an aristocratic family of Madura. He held a grudge again to Sunan Amangkurat I, because Cakraningrat I (the Bupati of Madura and his grand father) was kiled by Sunan Amangkurat I. Besides, Cakraningrat II (the father of Trunajaya) was killed by Sunan Amangkurat I too. Sunan Amangkurrat I appointed the new Cakraningrat II (the uncle of Trunajaya) to be Bupati Madura. Cakraningrat II had prefer to live in the Kraton Mataram kingdom. Therefore he neglected his people. Trunajaya had succesfull in influenced his people and an aristocratic family, for fight Sunan Amangkurat I and Cakraningrat II. Trunajaya pleaded with Kyai Kajoran to support him.
Kyai Kajoran blessed and support Trunajaya. As string of the alliance, Kyai Kajoran married off his daughter with Trunajaya. The death of Wiramenggala (the son‑in‑law of Kyai Kajoran) was killed by Sunan Amangkurat I, made enraged of Kyai Kajoran. Therefore, Kyai Kajoran allianced with Trunajaya and Adipati Anom agreed on Sunan Amangkurat I threw.
Trunajaya came back to Madura, he organized the troops. He gained support of the people and an aristocratic family in Madura. Besides, Trunajaya was favored came by Kraeng Galesung and his troops from Makasar. Kraeng Calesung held a grudge against V.0.C because Makasar was overwhelmed by V.0.C..
In 1674, Trunajaya and his troops overwhelmed Madura island. After that, Trunajaya moved from Madura to east Java. Trunajaya succeed in defeat the Dutch in Surabaya and he defeated the Bupaties that who loyal to the Mataram kingdom. After East Java was overwhelmed by Trunajaya, he joined forces with Kajoran's troops in the Central Java.
Kyai Kajoran's toops were composed of Santri and country people. Besides, he was backed up by Adipati Anom's troops. Kajoran's troops routed the Mataram troops. Even, Pangeran Purubaya and his troops of the Mataram kingdom changed side with Kyal Kajoran. The Kraton Pleret (the palace of Sunan Amangkurat I) was surrounded by Kyai Kajoran.
The arrival of Trunajaya's troops reinforced Kyai Kajoran. In 2 June 1677 the Kajoran's troops and the Trunajaya’s troops captured the Mataram kingdom.16 Sunan Amangkurat I got away to Batavia where he requested the support of the Dutch. Therefore, Sunan Amangkurat I was trown out of the Mata­ram kingdom by Kyai Kajoran and Trunajaya.
Adipati Anom realized about the destruction of the Mataram kingdom, because the Mataram dynasty will extinct. Therefore Adipati Anom changed his mind he sided with his father (Sunan Amangkurat I). Sunan Amangkurat I forgived Adipati Anom, then Adipati Anom escorted his father.
On the road, Sunan Amangkurat I fell ill, therefore he appointed Adipati Anom as Sunan Amangkurat II (the king of the Mataram kingdom). After that event, Sunan Amangkurat I died in the Wanayasa forest (1677) from a long illness, then he was buried in the Tegal Arum (or Tegal Wangi) country. Therefore Sunan Amangkurat I was title as Sunan Tegal Arum or Sunan Tegal Wangi. He was only the king of the Mataram kingdom that was not lie buried in the Mataram Kings' resting palace.
Sunan Amangkurat II met with Cornelis Speelman (comandan of the Dutch army) in the Jepara. He called for help of the Dutch for the Mataram kingdom took over. Besides Sunan Aamngkurat II called for help to Speelman destroy for Kajoran's and Trunaja­ya's troops. Speelman promised Sunan Amangkurat II help, on condition, he must endorsed the Jepara Agreement. Sunan Amangkurat II endorsed the Japara Agreement (20 0ctober 1677).17 That agreement among other theris features :
1. The East Krawang area until the Pamanukan river must be turned over to the V.0.C.
2. Sunan Amangkurat II conceded that in debt of V.0.C. in the form many (250.000 real Spain and 20.000 spanis reals must paid per month as the war duty)
3. The East end Java Nortern seashore until the Kra­wang area, as the V.0.C. control.
4. The V.0.C. as monopoly trade of opium and cloth in the Mataram kingdom.
The Jepara Agreement was endosed by Sunan Amangku­rat II, was although hurted to the Mataram kingdom.
VI

THE RESTORATION OF THE MATARAM DYNASTY

After Sunan Amangkurat I was collaps, Trunajaya meanted domination in the Mataram kingdom. He indicated as who inherited of the Majapahit dynasty. Therefore he qualified as the king of the Mataram kingdom Trunajaya moved the Mataram wealth from Kraton Pleret to Kediri. He prepared Kediri as the central which of his kingdom. Trunajaya had the title as Pangeran Maduretno.
Kyai Kajoran was not occupation the Mataram kingdom, because he preferred live with country people and he led the pondok pesantren. After war, Kyai Kajoran came back to Kajoran Country. He reestablished his pondok pesantren.
Sunan Amangkurat II's troops with the Dutch troops recaptured the Mataram kingdom. The great attacked of Sunan Amangkurat II and the Dutch troops occupied the Kraton Pleret (the Sunan Palace), the they tracked down Trunajaya and Kajoran. The Dutch troops (under the command of Captain J.A. Sloot) rounded up Kyai Kajoran in the Gunung Kidul areas. In 14 September 1679 Kyai Kajoran was kill by J.A. Sloot.18
Captain Jonker's troops attacked Trunajaya in East Java. In 25 December 1679 Trunajaya was rounded up by Jonker, then Jonker handed Trunajaya over to Sunan Amangkurat II in the Mataram kingdom. In 2 January 1680 Trunajaya was killed by Sunan Amangkurat II.

Sunan Amangkurat II restored power and beureucratic structure in the Mataram kingdom. He culti­vated better ties with the ulama. Therefore Sunan Amangkurat II assigned the ulama in the beureucratic structure of the Mataram kingdom. It seem Sunan Amangkurat II realized that require the cooperation with the ulama in his government, because the Mata­ram kingdom was Islamic empire. The cooperation bet­ween the king and the ulama which furthered as the tradition in the Mataram kingdom.



NOTES

1 Sutjipto. F.A. Pemimpin Agama di Wilayah Kerajaan Mataram, ( Jakarta : Lembaga Researech Kebudayaan Nasional, 1973 ), p. 21 ‑ 25.

2 H.J. De Graaf. " Het Kadjoran Vraagstuk", in Djawa magazine, No. 4-5, 20 ste jaargang,1940, p.326.

3 Sutjipto.F.A. " Panembahan dalam Sistem Titulatur Tradisionil ", in Kirsada, No. 1., 1969, p. 86.

4 H.J. De Graaf. Op.cit. p. 294.

5 Babad Tanah Jawi. W.L. Olthof (s‑Gravenhage: Martinus Nijhoff, 1941 ), p. 154.

6 Sutjipto.F.A. " Pengaruh Ulama Dalam Bidang Politik dan Militer di Kerajaan Mataram" in Bacaan Sejarah, No. 9. Maret, 1980, p. 3.

7 B. Schrieke, Indonesian Sociological Studies, II, ( Bandung W. van Hoeve Ltd.,1959), p. 131.

8 Sutjipto.F.A. Op.cit., Pemimpin Agama ... p. 29. And in Soemarsaid Moertono. State and State craft in Old Java, a Study of The Leter Mataram Period, 16th. to 19 th. Century.( New York: Asian Studies Cornell University, 1963), p. 29.

9 T.G.Th.Pigeaud. " Islamic States in Java 1500 ‑ 1700 ". in VKI No. 70. p. 54.

10 Babad Tanah Jawi. Op.cit. p. 141.

11 B.H.M. Vlekke, Nusantara A History of Indonesia. ( s­-Gravenhage: van Hoeve, 1959), p. 175.

12 Ibid. P. 175.

13 Ibid. p. 176.

14 Babad Tanah Jawi. Op.cit. p. 149. and in H.J. De Graaf. " De Regering van Sunan Amangkurarat I Tegal Wangi, Vorst van Mataram 1646 ‑ 16'77 VKI , deel 33, 1, 1961.

15 B.H.M. Vlekke, Op.cit. P. 174, from Olsow, Rijckloff Volchertsz van Goens, De Cariere van een Diplomaat, 1619 ‑ 1655. ( Utrecht: 1954.)

16 H.J. De Graaf. Het Kajoran...." Op.cit. p.312.

17 Sutjipto.F.A. “Perang Trunojoyo” in Sartono Kartodirdjo (ed.), Sejarah Perlawanan-Perlawanan Terhadap Kolonialisme. ( Jakarta: Pusat
Sejarah ABRI, 1973 ), p. 19.

18 H.J. De Graaf. " Het Kajoran …" Op.cit., p. 319.



                                            DAFTAR PUSTAKA

        Babad Tanah Djawi. W.L. Olthof . s-Gravenhage: Martinus Nijhoff,1941

Graaf, De. H.J. “ Het Kadjoran Vraagstuk “. In Djawa Magazine, No.4-
          5, 20 ste jaargang, 1940.

Pigeaud. Th. T.G. “ Islamic States in Java 1500 – 1700 “, in VKI No.70

Schrieke. B. Indonesian Sociological Studies II. Bandung: W. van
          Hoeve Ltd., 1959.

Soemarsaid Moertono. State and State Craft in Old Java: A Study of
          The Letter Mataram Period, 16th to 19th Century. New York :
          Asian Studies Cornell University, 1963.

Sutjipto, FA. Panembahan dalam Sistem Titulatur Tradisional “
          dalam jurnal Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM, Kirsada.
          No. 1. Th. 1969.

---------- Pemimpin Agama di Wilayah Kerajaan Mataram . Jakarta :
          Lembaga Research Kebudayaan Nasional, 1973.

---------- “Perang Trunojoyo”, in Sartono Kartodirdjo (ed.) Sejarah Per-
          lawanan – perlawanan Terhadap Kolonialisme. Jakarta : Pusat
         Sejarah ABRI, 1973.

Vlekke. BHM. Nusantara History of Indonesia. S-Gravenhage: van
         Hoeve, 1959.

Olsow, Rijcloff Volchertsz van Goens, De Cariere van een Diplomaat
         1619 – 1655. Utrecht: 1954.