Kamis, 30 April 2009

PEREBUTAN LADANG MINYAK DI INDONESIA; OLEH KOLONIALISME BARAT DAN TIMUR

Bedah Buku :

TARAKAN “ PEARL HARBOR” INDONESIA ( 1942-1945 )


Penulis : Iwan Santosa

Penerbit : PT. Primamedia Pustaka

Kota Terbit : Jakarta

Tahun : Mei, 2005, terbit pertama

Halaman : 190 halaman, ber-indeks

Dibedah oleh: Ahmad Adaby Darban, Drs.,S.U.

********************************************************************************************

Perang dunia kedua yang mulai pecah pada tangal 1 September 1939, yaitu ketika Jerman mulai menginvasi Polandia, ternyata tidak hanya persoalan politik, didalamnya juga megandung persoalan ekonomi khususnya “berebut Ladang Minyak Bumi”. Negara-negara yang sok “adidaya-adikuasa” saling berusaha untuk menguasai ladang-ladang minyak yang berada di negara-negara lain yang bukan miliknya.

Saudara Iwan Santosa , telah menyajikan dengan menarik tentang pertempuran Tarakan antara tahun 1942-1945,yang di dalamnya tidak terlepas dari persoalan perebutan sumber minyak bumi, sebagai “Pearl Harbor” pintu gerbang yang amat penting bagi masuknya pendudukan Jepang ke kepulauan Indonesia, dan awal runtuhnya kolonialisme Belanda di Indonesia. Dengan kata lain Tarakan sebagai kunci strategis dalam rangka Jepang menguasai wilayah kepulauan Indonesia, dan merupakan “ajang pertempuran” kaum kolonialis Barat ( Belanda-Australia-Amerika ) maupun Tiimur ( Jepang ) dalam berebut ladang minyak bumi ( hlm. 1-2 dan 11-13 )

Kami menghargai saudara Iwan Santosa penulis buku ini, meskipun bukan sejarawan, namun naluri kesadaran sejarahnya tinggi. Terbukti melalui tulisannya ini berhasil mengungkap peristiwa sejarah yang banyak terlupakan dalam khazanah penulisan sejarah Indonesia. Karya ini punya makna pula dalam memperkaya dinamika penulisan sejarah di Indonesia.

Kisah dalam buku ini disajikan dalam VI bab, dilengkapi pengantar penulis, sambutan dari Kepala Staf TNI AU Marsekal TNI Chappy Hakim, dan Walikota Tarakan dr. H. Jusuf Serang Kasim. Selain itu dilengkapi pula daftar pustaka dan indeks, serta gambar – foto – tabel dan peta, sehingga sangat menarik, namun sayangnya daftar sumber lisan ( para pelaku dan penyaksi peristiwa ini yang diwawancarai ) tidak ditampilkan.

Dalam tulisan bedah buku ini dicoba untuk ditampilkan beberapa kisah peristiwa secara fragmental yang diangap penting dan menarik ( hanya sebagian kecil saja), yaitu antara lain :

Pertama, penyerbuan Tarakan sebagai “Pearl Harbor”-nya Indonesia merupakan peristiwa yang termasuk rangkaian Perang Dunia (PD) II. Peristiwa ini penting karena terjadi 2 kali pertempuran besar, yang digambarkan bagai neraka yang menelan banyak korban. Pertempuran pertama, ketika Jepang mengalami kegagalan untuk menduduki dan menguasai sumber minyak di Mongolia yang berbatasan dengan Rusia, maka mengalihkan programnya ke Selatan. Sebagai sumber minyak kawasan Indonesia yang paling strategis, terdekat dari Jepang, dan mutunya baik “world purest oil” dan menghasilkan 6.000.000 barel dalam setehunnya. ( dari Amsterdam Effectenblad, 1932 ). Pada tanggal 11 Januari 1942 dini-hari Jepang menyerbu Tarakan, dengan lebih kurang 20.000 tentara kekaisaran Jepang yang menggunakan pesawat terbang Pemburu Zero berhasil mengunguli pesawat Belanda Bomber Glenn Martin, dan Elit Angkatan Laut Jepang ( Pasukan Kure ) berhasil menguasai pantai Tarakan.

Setelah Belanda merasa terus dikalahkan, maka Overstee S. de Wall mengambil kebijakan untuk “Membumihanguskan Tarakan “ dengan merusak dan membakar peralatan ladang minyak, dengan maksud agar Jepang tidak mendapat apa-apa dari kemenangannya itu. (hlm. 20-22).

Perlawanan Belanda yang hanya dengan 1300 tentara (Batalyon VII KNIL ) di bawah pimpinan Overstee S de Wall segera menyerah pada Kolonel Kyohei Yamamoto, dengan mengibarkan bendera putih. (hlm. 24-25). Pada hal sebelum serangan Pearl Harbor, Tarakan juga sebagai pelabuhan transit penting dari kapal – kapal Angkatan Laut AS ( US Asiatic Fleet, di bawah Laksamana Thomas Hart ).

Sejak itulah Tarakan berpindah tangan dari penguasa kolonial Belanda ke tangan kekuasan kolonial Jepang. Semangat Jibaku dan Bushido jepang, dengan pekik “Banzai Nichisei Hokoku ! (Hidup kaisar dan tujuh nyawa musuh untuk Kaisar ) mewarnai peperangan yang memakan banyak korban.Dari Tarakan, Jepang meneruskan pendudukannya ke berbagai pulau di Indonesia, dan mengambil alih kekuasaan dari Belanda, juga menguasai sumber-sumber minyak di Indonesia. Mulailah era penjajahan Jepang di kepulauan Indonesia, meskipun tidak lama ( lebih kurang 3 ,5 tahun ), namun rakyat merasakan penderitaan yang berat, kemiskinan, penyiksaan, dan banyak korban kematian.

Sebagai bukti bahwa Jepang juga punya tujuan penguasaan sumber minyak bumi ialah, begitu menang dan menguasai Tarakan, kemudian membentuk Satuan Tugas Minyak yang diberi nama Nampo Nen Rioso Butai di bawah komando Jendral Yamada. Ia mendapat tugas khusus untuk mengekploitasi minyak di Tarakan untuk kepentingan perang, dengan mengerahkan 250 personel teknik Angkatan Laut yang ahli dalam pertambangan (hlm.38-40)

Kemenangan Jepang di Tarakan tidaklah berlangsung lama, mulai tahun 1943 terjadi arus balik, kubu Sekutu mulai dapat menguasai satu-persatu daerah yang direbut Jepang. Dari pulau Morotai di Maluku Utara, Jendral Douglas MacArthur (sebagai Panglima Sekutu di Pasifik Barat Dayaรจ memerintahkan Brigade 26 dari Divisi ke 9 beserta Divisi 7 dan 9 Australia untuk merebut kembali sumber-sumber minyak di Kalimantan, dan sebagai serangan pertama dan utama ditujukan pada Tarakan.

Kedua, merupakan proses arus balik perang perebutan ladang-ladang minyak yang dikuasi Jepang oleh pihak Sekutu. Pada tanggal 1 Mei 1945 Tarakan mulai digempur oleh pasukan Sekutu, dengan target 7 hari dapat dikuasai. Namun, ternyata meleset hingga sampai 2 bulan terjadi pertempuran berdarah di Tarakan, yang berhadapan antara tentara Jepang melawan Australia dari Australian Imperial Force (AIF) yang diutus oleh Sekutu. (hlm. 67 – 70 ).

Jendral Mac Arthur dengan penuh semangat memerintahkan bombardir ke Tarakan, untuk mendahului serangan Brigade Australia ke 26 yang akan didaratkan ke Tarakan.(hlm. 68-69) Peristiwa inilah dikenal sebagai permulaan serangan merebut Tarakan. Meskipun Jepang melawan, namun mengalami kekalahan, karena tinggal 2000 pasukan Jepang harus melawan 20.000 tentara Sekutu yang kebanyakan dari Australia. Sambil bertahan di bunker-bunker, sebagian besar tentara Jepang mundur ke hutan dan gunung. Bombardir dari Sekutu yang dihujankan selama 4 hari itu, sangat membantu memperlancar pendaratan tentara Australia.

Tentara Australia Unjuk Gigi di Tarakan, dengan perlindungan pesawat tempur B-24 Liberator dan B-25 Mitchell mereka lancar mendarat di pantai Tarakan. Dari pantai Lingkas terus mendesak ke daratan sampai gunung-gunung ( kemudian gunung itu diberi nama Faith, Hope, dan Charity. Dari sini kemudian menuju King Cross pusat kota Tarakan.(hlm. 84-87). Pertempuran sengit terjadi di Peningki Baru pinggir kota Tarakan, pasukan Australia banyak terhambat, bahkan komandan seksinya tertembak. Kemenangan berada di pihak Australia, bahkan jugha beruntung mendapatkan peta perminyakan Tarakan buatan Belanda, yang isinya lebih lengkap dari peta lain. Untuk menghibur tentara Australia di Tarakab, maka dibentuklah surat kabar The Tarakan Times, sebagai hiburan orang-orang Australia yang sedang menduduki, kemungkinan merupakan surat kabar tertua. Walaupun sebagaian Tarakan telah dikuasai oleh Australia, namun kota ini belum juga tentram, karena pihak Jepang masih terus nengadakan perlawanan.

Penulis juga mengkishkan, bahwa kota Tarakan yang talah jatuh ke tangan tentara Australia itu , kemudian oleh endudukan Australia itu dijadikan “Kota Australia”, dijadiakan bagian dari negaranya. Australianisasi ini berlangsung dengan indikator antara lain: Menggati nama-nama Melayu dengan nama-nama yang dikenal di Australia, nama-nama jalan, perbukitan, sungai-sungai, dan juga pelabuhan udara Juata diganti dengan Croydon, dengan jalannya bernama Anzac Highway.(hlm. 99-100 ).

Ketiga, Tarakan sebagai bagian dari Negara RI punya makna yang penting bagi

bangsa Indonesia, oleh karena itu jangan dilupakan. Sejarah mencatat, Tarakan sebagai penghasil minyak yang sangat penting hingga jadi rebutan dunia dan penyumbang devisa negara RI setelah merdeka. Pada awal kemerdekaan Tarakan merupakan penyumbang devisa dari minyak buminya, yang selalu disedot hasilnya untuk Jakarta ( penghisapan daerah oleh pusat )(hlm. 173-175), dan juga memberikan kekayan pada kaum kapitalis dunia yang masih minta bagian dari hasil minyak Tarakan.

Sesungguhnya keberadaan Industri minyak di Tarakan dan sejarah peperangan yang pernah terjadi, dapat dipetik menjadi pelajaran tentang ketidakmampuan memanfaatkan potensi lokal di sebuah negara berkembang,sebagai modal lebih lanjut bagi pembangunan. Namun perlu diingat, bahwa penduduk Tarakan, seperti halnya masyarakat daerah lain penghasil mineral di Indonesia, jangan diterlantarkan begitu saja dalam tatanan pemerintahan yang sentralistik, dan hanya menjadi penonton kemajuan negara jiran yang ada didepan matanya.(hlm.176) . Di era reformasi yang telah diputuskan untuk mengembangkan otonomi daerah, sudah selayaknya Tarakan punya otonomi untuk dapat menikmati dan mensyukuri hasil sumber dari daerahnya, dimanfaatkan bagi pembangunan daerah dan mensejahetrakan kehidupan masyarakatnya.

Penutup, buku ini merupakan bunga rampai tentang perjalanan kota Tarakan pada zaman kolonial, baik Belanda, Jepang, Autralia, sampai dengan zaman kemerdekaan. Sesuai dengan judulnya, buku ini lebih cenderung banyak mengupas peperangan.

Meskipun nuansa kisah sejarahnya kuat, buku ini lebih cenderung sebagai karya jurnalistik yang baik, dengan mengunakan fakta-fakta sejarah, diramu dengan bebagai pandangan, dan disampaikan dengan retorika serta narasi jurnalis yang menarik. Gambar-gambar dokumentasi tokoh-tokoh perang, mesin perang, dan peta perang, memberikan illustrasi yang mendukung narasi, sehingga para pembaca akan lebih mantab. Oleh karena itu, khususnya warga Tarakan amat sangat baik bila dapat mudah memperoleh buku ini, dan membacanya.

Dengan munculnya buku ini, seharusnya mampu menggelitik para sejarawan untuk menulis lebih lanjut, dengan mengunakan sumber jejak-jejak sejarah yang masih ada, kemudian digarap dengan metode sejarah. Dengan demikian diharapkan dapat muncul Sejarah Tarakan lebih lanjut.

Ahmad Adaby Darban.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar