Sabtu, 15 Agustus 2009

LINTASAN SEJARAH KAUMAN JOGJAKARTA

LINTASAN SEJARAH KAUMAN
( TEMPO DOELOE – TEMPO KINI – DAN TEMPO MENDATANG )

Oleh : Ahmad Adaby Darban


MUQADIMAH
Bismillaahirrahmaanirrahiim

Tulisan pendek ini dibuat sekedar untuk membuka pembicaraan kita tentang Kauman, sebuah komunitas santri di Yogyakarta yang telah berusia 233 tahun ( hampir 2,50 abad ). Nama Kauman berasal dari Pa- Kaum – an, pa= tempat, Kaum dari kata Qoimuddin ( penegak agama Islam ), jadi Kauman adalah tempat para penegak agama atau para ulama. Setelah Masjid Gedhe didirikan, maka sangat diperlukan masyarakat yang memelihara-mengelola- memakmurkan masjid. Untuk itu Sultan Hamengku Buwana I yang sangat aktif beribadah meletakkan para ulama pilihan dari berbagai daerah, untuk ditempatkan di sekitar Masjid Gedhe sebagai pemakmur dan pengelola masjid, sekaligus dijadikan Abdi Dalem urusan keagamaan. Pimpinan para ulama itu adalah Kyai Pengulu Fakih Ibrahim Dipaningrat ( Pengulu Pertama Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat ). Semua ulama difungsikan dalam organisasi kemasjidan, dengan pembagian tugas yang telah tertata rapi.

Para ulama dan Pengulu yang ditempatkan di sekitar Masjid Gedhe itu, kemudian membentuk komunitas santri dengan perkawinan “indogami Kampung”. Dalam perkembangan lebih lanjut terjadilah komunitas kampong santri dengan ikatan keagamaan dan kekerabatan. Dengan demikian solidaritas komunitas ini sangat kuat. Tradisi kesantrian seperti dalam pendidikan, pergaulan, serta dalam kehidupan bermasyarakat dengan masjid sebagai pusatnya memberikan warna, nuansa, dan cirikhas tersendiri bagi Kauman di bandingkan dengan kampong-kampung lainnya di kota Jogjakarta pada waktu itu.

Kehidupan manusia sebagai makhluk sosial dan budaya selalu berkembang dan berubah sesuai dengan dinamika zaman. Kampung Kauman pun yang dihuni oleh kaum santri tidak terlepas dari poses perkembangan dan perubahan dari zaman ke zaman hingga saat ini. Sebuah pertanyaan bagaimanakah perkembangan dan perubahan yang terjadi ?, mari kita bicarakan.

KAUMAN TEMPO DOELOE SAMPAI TEMPO KINI

Berdasarkan beberapa sumber dan fakta sejarah yang ditemukan, gambaran kampong Kauman tempo doeloe ( awal berdirinya ), dapat direkonstruksi sebagai berikut :
Secara pisikè Setting Kampung Kuman berada di atas tanah seluas +192000 m2, letaknya di barat Masjid Gedhe dan sekitarnya. Dihuni oleh para ulama, Pengulu Kraton dan 9 Ketib, masing-masing menghuni sebidang tanah di atasnya dibangun rumah dan Langgar ( tempat sholat dan mengaji ).
Perkembagan sosial è Perkampungan para ulama itu berkembang dengan pernikahan indogami,sehingga membuat satu kampong dengan sebagian besar punya ikatan kekerabatan dan ikatan keagamaan. Dengan demikian memiliki solidaritas yang kuat, baik dalam membela agama Islam, keadilan dan kebenaran, maupun juga membela komunitasnya.
Warga kampungKauman juga memiliki juga memiliki jaringan yang berhubungan dengan kampong atau desa santri di Jawa, antara lain di Tambak Beras Jombang, Banjarnegara, Mlangi, Plosokuning, Krapyak, dan sebagainya.

Pada tahun 1912 merupakan tahun monumental bagi Kauman, yaitu munculnya seorang ulama yang cerdas dan punya perspektif yang tepat dalam pencerahan masa depan, ialah KHA Dahlan. Dalam rangka memajukan dan mengembangkan umat Islam, ia punya jurus yang handal, yaitu : Pertama, menggerakkan Sosial-keagamaan; Kedua, menggerakkan pembaharuan pendidikan Islam; dan Ketiga, menggerakkan pemurnian Islam, kembali pada Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah. Gerakannya itu diberi nama Muhammadiyah, lahir dan berdiri di kampong Kauman Jogjakarta. Pesarekatan Muhammadiyah ini kemudian menasional, bahkan mengglobal, sehingga gaungnya sampai dunia internasional. Berbagai kajian memberikan nama gerakan ini sebagai “Reformasi”; “Modernisasi”, “Tajdid/ Pembaharuan” dan sebagainya. Tentu saja KHA Dahlan tidak sendirian, didukung oleh para ulama dan para santrinya yang kemudian meneruskan perjuangan Muhammadiyah hingga sampai kini tetap utuh ( Alhamdulillah tidak pernah pecah ).

Dengan adanya Muhammadiyah ini, kampung Kauman jadi dikenal oleh masyarakat luas secara nasional maupun internasional. Kauman juga dikenal sebagai tempat persemaian ulama dan gudangnya ulama serta muballigh/muballighot. Anak-anak mudanya juga dikenal ‘Alim, suka mengaji dan memiliki aktivitas lain yang menonjol, seperti Sepak Bola, Beladiri/Pencak, dan juga banyak yang berhasil dalam bidang keilmuwan, bidang pengusaha dan sebagainya. Kaum mudaya juga punya “power” yang cukup disegani oleh masyarakat kampung-kapung lainnya. Kauman memiliki Perguruan Bela-diri yang khas bernama Tapak Suci. Tapak Suci di samping untuk media membangun jiwa dan raga bagi generasi muda Kauman, juga pada kelahirannya dipersiapkan untuk pertahanan menghadapi kaum Komunis (PKI). Pada perkembangannya Tapak Suci secara resmi menjadi bagian dari Muhammadiyah sebagai Tapak Suci Putera Muhammadiyah, dan selanjutnya menjadi Beladiri yang menasional dan juga mengglobal. Sampai saat ini memiliki cabang di hamper seluruh propinsi di Indonesia, dan juga punya cabang di Negeri Belanda, Arab Saudi, Prancis, Suriname, Australia dan sebaginya.

Dalam berbagai era perjuangan, Kampung Kauman punya andeel yang tidak sedikit, antara lain seperti dalam menghadapi penjajah di Zaman Jepang, ulama Kauman yang berani menentang Seikere, sehingga sekolah-sekolah Muhammadiyah dan warga kampung Kauman tidak diwajibkan Seikere (sebab Syirik). Putera-putera Kauman menjadi motor di pasukan Hizbullah Sabilillah, dan kemudian dari Kauman pula didirikan Markas Ulama Asykar Perang Sabil (MU- APS) yang pusatnya di Gedung Pejagan Plataran masjid Gedhe. Pasukan-pasukan yang dimotori oleh putera-putera Kauman ini ikut perang gerilya membantu TNI sampai ke Semarang, Ambarawa, Kedu, dan Kebumen. Dalam peristiwa Kota Baru, Plataran Masjid Gedhe juga digunakan menyusun kekuatan untuk penyerbuan, putera-putera Kauman pun ikut aktif dan juga ada yang menjadi korban sebagai pahlawan.
Plataran Masjid Gedhe Kauman pun dipakai juga untuk menyusun kekuatan dalam rangka penumpasan pemberontakan PKI ( 18 September 1948, pusatnya di Madiun ); dan juga Demonstrasi Pembubaran PKI tahun 1965 karena pemberontakan G-30S/PKI, dari tuntutan Demonstrasi Generasi Muda Islam (GEMUIS) Jogjakarta, maka PKI dibekukan di Jogjakarta ( tindakan ini pertama kali untuk seluruh Indonesia ). Plataran Masjid Gedhe dikenal sebagai ajang perjuangan umat. Angkatan 1966 (KAMI –KAPPI-KAWI-KASI ) bila bila demonstrasi berangkatnya dari plataran Masjid Gedhe. Demonstrasi untuk Reformasi dan menurunkan rezim Soeharto salah satu tempat konsentrasinya adalah plataran Masjid Gedhe Jogjakarta, dan warga Kauman pun ikut berpartisipasi baik tenaga maupun logistiknya.

Dalam bidang pendidikan generasi muda, pada awalnya dilakukan melalui pondok-pesantren dan banyak menghasilkan para ulama serta pengusaha. Setelah Muhammadiyah berdiri dan dikenalkan adanya sekolah ( seperti HIS ned de Qur’an; Volkschool med de Qur’an; Kweekschool med de Qur’an; MULO men de Qur’an dan sebagainya ), maka putera-puteri Kauman mulai merambah memasuki sekolah-sekolah, namun juga masih ada yang bertahan di Madrasah Mu’alimien dan Mu’alimat, serta di pesantren. Dari pengalaman ini, maka generasi Kauman selanjutnya lebih banyak yang belajar ilmu pengetahuan umum dan menghasilkan para sarjana sampai dengan Guru Besar dalam berbaga bidang keilmuan ( Profesor perempuan pertama di Indonesia berasal dari Kauman, Ibu Sitti Baroroh Baried ).
Konsekwensi logis dari perkembangan ini ialah semakin langka lahirnya kader ulama ( dalam pengertian agama ) di Kauman, sehingga sampai pada saat ini pun dapat dirasakan Kauman yang dulunya gudang ulama, jadi kekurangan ulama ( hal ini perlu diperhatikan ! ).
Dalam bidang pendidikan non formal berjalan adanya pengajian anak-anak di berbagai tempat di Kauman, pada tahun 80-an pernah sampai didirikan organisasi “Himpunan Pengajian Anak-anak Kauman (HPAK)”. Pada awalnya “Tarbiyatul Atfal”, kemudian di hamper di setiap langgar didirikan pengajian anak-anak dan cukup gayeng. Kaderisasi lewat pengajian anak-anak itu masih terasa hasilnya, munculnya aktivis pemuda Kauman pada saat ini. Di kalangan remaja dibentuk Orena dan Oreka, dan di kalangan orang tua diadakan pengajian di setiap sector, sedangkan pengajian ibu-ibu
Diadakan di gedung Pesantren dan di Kauman Selatan (malam sabtu), serta pengajian PKK.

Adapun yang menjadi keprihatinan pada saat ini adalah antara lain, berkurangnya pengajian anak-anak yang berjalan efektif , usaha mendirikan Madrasah Diniyah tidak lama umurnya, sehingga sebagian besar anak-anak di Kauman belum tergarap dalam pendidikan agama melalui pengajian. Sistim pembinaan khusus remaja dan pemuda/pemudi masih kurang mendapatkan perhatian, sehingga masa depan kader-kader generasi muda Kauman perlu dibangun lebih serius. Keringnya ulama yang menguasai berbagai ilmu agama Islam, setelah wafat dan udzurnya para ulama, untuk mempersiapkan kadernya masih membutuhkan waktu yang panjang, dan perlu segera diupayakan keberadaannya kembali. Masih banyak lagi keprihatinan yang perlu segera dicari solusinya yang mantab.



KAUMAN TEMPO YANG AKAN DATANG

Dalam melihat perspektif ke depan tidak dapat begitu saja meninggalkan realitas masa kini, dan yang menjadi sebab terjadinya kenyataan yang ada pada masa kini. Dari sinilah insyaAllah akan dapat ditemukan “terapi” yang lebih tepat, sesuai dengan perkembangannya. Sesuai dengan nama Kauman dan realitas yang pernah dimilikinya, yaitu kampungnya para “Penegak Agama Islam”, sudah sewajarnya bila di masa depan berusaha dikembalikan keberadaan para ulama di kampung ini (salah satu alternative). Tentu saja akan terdapat Redifinisi tentang ulama itu sendiri, yaitu tidak persis dengan keulamaan di Kauman pada awal berdirinya, seperti ulama yang harus jadi Abdi Dalem, ulama yang hanya menguasai ilmu agama Islam dan sebagainya. Pengertian ulama bias lebih diluaskan lagi, yaitu memiliki dasar salah satu ilmu agama Islam yang kuat dan juga menguasai salah satu ilmu umum ( keilmuan agama Islam dan ilmu umum tidak didekotomikan, namun integral dalam pribadi ). Dengan demikian, maka dapat dimunculkan para ulama yang tadinya berasal dari pendidikan umum, kemudian ditambah dengan wawasan keagamaan yang intensif, dan atau sebaliknya, dalam rangka mengantisipasi keadaan zaman. Untuk memben- tuk insan semacam ini perlu difikirkan. ( antara lain : Mendidikkan putera-putrinya ke pesantren dan perguruan tinggi agama Islam; mengadakan kusus-kursus keIslaman, dan sebagainya ).

Warga Kauman tentu saja tidak harus semuanya jadi ulama, namun sebagai kampung Islam tentu saja warga Kauman paling tidak dalam kehidupannya memiliki dan mengamalkan nilai-nilai Islami. Oleh karena itulah pendidikan berupa pengetahuan dan pengamalan hidup Islami bagi warga Kauman amat sangat diperlukan. Sebagai pelaksanaannya diperlukan sebuah konsep dan program yang matang, melalui berbagai jalur dalam masyarakat, dan didukung serta disengkuyung oleh berbagai lembaga yang ada di Kauman ( Muhammadiyah dan ortomnya; Takmir Masjid Gehe; dan pemerintahan RW-RT )

Adapun Konsep Hidup Islami dapat dipakai PHI ( Pedoman Hidup Islami ) yang telah diolah oleh Muhammadiyah, tentang metode pendidikan ke masyarakatnya dibicarakan bersama. Jalur-jalur yang dapat digunakan antara lain melalui berbagai lembaga/organisasi yang ada di Kauman, menghidupkan kembali pengajian anak-anak, remaja, pemuda-pemudi, dan orang tua ( dicari model yang menarik untuk dapat dilaksanakan ).

Untuk mendukung itu semua, Pertama diperlukan konsolidasi lembaga-lembaga yang ada di Kauman, membicarakan program bersama bersama, dan pembagian tugas sesuai dengan kelembagaannya masing-masing. Kedua, diadakan sosialisasi program bersama kepada warga Kauman, dengan target untuk menyadarkan dan minta dukungan serta dorongan aktiv dari warga. Ketiga, mencari dukungan moril dan materiil dari para aghniya’ Kauman, baik yang ada dalam kampung, atau yang ada di luar kampung. Dari upaya itu semua yang dilandasi dengan niat ibadah, insya Allah prospek masa depan Kauman akan lebih baik.

KHOTIMAH

Sekali lagi disampaikan bahwa makalah kecil ini hanyalah sebagai pembuka dan pemancing pembicaran dalam majelis ini. Kalau di dalamnya terdapat urun rembug, nilainya masih baru sebuah wacana dan usulan belaka, sedangkan yang diharapkan lebih jauh dari pembicaraan kita di pagi hari ini adalah kesepakatan bersama sebagai konsep yang jitu untuk membangun masa depan Kauman. Oleh karena itu, dihimbau agar seluruh peserta seminar ini dapat berperan aktiv membemberikan andel pemikiran dan konsep-konsepnya.

Kami yakin bahwa warga Kauman menginginkan perbaikan dan kemajuan, serta kami yakin pula bahwa warga Kauman punya kemampuan untuk berbuat demi perbaikan dan kemajuan itu. Hanya mungkin yang belum ditumbuhkan adanya komunikasi idea, kesepakatan, dan bagaimana cara untuk berupaya baik dan maju itu. Satu hal lagi yang perlu didorong, yaitu adanya kemauan dan hasrat yang kuat kebersamaan untuk melaksanakan kesepakatan demi perbaikan dan kemajuan Kauman yang kita cintai bersama.

Semoga Allah Swt. memberikan pencerahan pada pemikiran, memberikan kekuatan dan kelancaran pada upaya perbaikan serta kemajuan, selalu memberikan petunjuk serta lindungan, sehingga dapat mewujudkan cita-cita kita bersama, Amien.

Alhamdulillaahi Robbil’alamii-n
Kauman Daarussalaam, 15 Agustus 2009

1 komentar: