Kamis, 24 September 2009

UMAT ISLAM DALAM ERA GLOBALISASI

Umat islam dalam era globalisasi
Oleh: Ahmad Adaby Darban
Globalisasi atau proses mendunia, adalah terjadinya hubungan komunikasi umat manusia di seluruh dunia yang semakin efektif. Hal itu didukung oleh sarana dan prasarana teknologi informasi-komunikasi serta transportasi yang semakin melancarkan hubungan umat manusia, sehingga terjadi iklim saling mempengaruhi semakin meluas. Arus Globalisasi itu kini semakin deras, dan menimbulkan dapak positif maupun negatif.
Dapak positifnya antara lain, informasi dari belahan dunia yang jauh dapat segera diletahui oleh manusia dibelahan dunia yang lain. Manusia dengan mudah berkomunikasi, termasuk dapat dengan cepat mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga merata di seluruh dunia. Di samping dampak positif, arus Globalisasi juga menimbulkan dampak negative yang sangat perlu mendapatkan perhatian.
Adapun dampak negatifnya antara lain, adanya ledakan informasi yang menguasai kehidupan manusia, dengan demikian yang mengusai media informasi, akan jadi penentu menguasai/mempengaruhi masyarakat dunia. Pengaruh negative dari luar (seperti pornografi-pornoaksi, taktik-strategi kejahatan, komsumerisme, hedonisme, liberalisme, sekulerisme dan sebagainya ), dengan leluasa masuk menusuk jantung rumah tangga kita, dan mempengaruhi sendi kehidupan masing-masing keluarga. Kehidiupan manusia semakin didorong individualistis, sangat menonjolkan hak individunya. Kehidupan beragama hanya diambil ritualnya saja, dan agama hanya dipahami hanya untuk aspek individual belaka. Dengan demikian, arus globarisasi itu dapat mengancam kehidupan sejak dari keluarga, masyarakat dan kemudian negara, apabila kita lengah, tidak waspada, dan kurang siap menghadapinya.
Bagi Umat Islam, menghadapi arus Globalisasi ini merupakan tantangan, sekaligus sebagai peluang untuk dapat dengan cerdas, syiasyah, dan trampil memanfaatkan untuk Jihad ( berjuang sungguh-sungguh ) menyampaikan aspek-aspek ajaran Islam sebagai Rahmat Lil’alamien, memberikan kesejahteran bagi seluruh alam. Dalam menhhadapi tantangan arus Globalisasi, umat Islam perlu giat memperkokoh Benteng dengan memperkuat fondasi Aqidah, Syari’ah-Ibadah, Amaliah, dan Akhlaqul Karimah. Dengan fondasi ajaran Islam ini insyaAllah akan mempu menjadi filter dan punya daya tangkal terhadap arus negative Globalisasi atau arus popularitas zaman. Dengan memahami dan menghayati serta mengamalkan ajaran Islam dengan benar, akan mahir mengendalikan diri dan menyeleksi pengaruh arus Globalisasi, sehingga dapat selamat, dan justeru dapat memanfaatkannya sebagai sarana dakwah dan pengembangan Islam di dunia yang lebih luas.
Dalam rangka untuk menguatkan umat menghadapi arus Globalisasi, maka perlu dipahami dan dihayati ajaran Allah Swt. Dalam kitabullah Al Qur’an sebagai pedoman hidup manusia ini, antara lain :
Pertama, Umat Islam harus memperkuat Iman dan juga harus memiliki Ilmu Pengetahuan yang luas ( Q.S. Al Mujadilah 11 ), sehingga Ilmu dan Teknologi yang tumbuh dan berkembang dilandasi oleh Iman yang kokoh, akan barokah dan mamfaat bagi kehidupan peradaban manusia.
Kedua, Umat dapat mengamalkan konsep hidum manusia dalam (Q.S. Al Qoshos: 77), yaitu a) Mempunyai orientasi hidup yang jelas bahagia di akhirat, dengan mengupayakan berbuat baik dan bahagia sejahtera di dunianya. b). Bebuat kebaikan pada sesama manusia dengan amal sholehnya. c) Tidak membuat kerusakan di bumi.
Ketiga, Memperkokoh Rumah Tangga Sakinah dengan landasan Cinta-Kasih-Sayang, membangun masyarakat yang Marhammah-Qoryatan Toyyibah ( tentram-damai ), berlandaskan Ta’awun atau gotong-royong. Kesemuanya itu saling menjaga, agar jangan sampai dirinya, keluarganya, dan masyarakatnya, terperosok dalam neraka (Q.S. At Tahrim: 6 ).
Keempat, Memperkokoh Istiqomah Umat Islam pada pengetahuan-pemahaman-serta mengamalan ajaran Islam, sehingga benar-benar Muttaqin (bertaqwa) dan sampai akhir hayat tetap dalam keadaan muslimin ( Q.S. Ali Imron: 102 ).
Dengan demikian itu, Umat Islam akan tegar berani menghadapi arus Globalisasi, dan bahkan dapat tampil dengan mahir menggguna Ilmu-Pengetahuan & Teknologi sebagai sarana dan prasarana perjuangan dakwah-Amar makruf nahi mungkar, sehingga bermanfaat bagi kesejahteraan kehidupan umat manusia di seluruh dunia.
H. Ahmad Adaby Darban, Drs.,SU.
Dosen Jur.Sejarah FIB UGM & Sekretaris FUI DIY

1 komentar:

  1. bagus sekali tulisannya, pak. ditunggu tulisan2 berikutnya yg makin mencerahkan.
    semoga bpk selalu sehat untuk menghasilkan karya2 terbaik untuk peradaban indonesia.
    oya, saya dulu murid bpk, angkatan 1987, tapi sayang ga sampai tamat. tapi saya tetap merasa menjadi klg besar jurusan sejarah.
    salam hormat,
    tri widodo

    BalasHapus