Kamis, 24 September 2009

WALI SANGA; AWAL PENYEBAR ISLAM DI JAWA

WALI SANGA
PENYEBAR ISLAM DI TANAH JAWA

Oleh :
Ahmad Adaby Darban

Iftitah
Proses awal sejarah perkembangan Islam di Indonesia pada umumnya, dan di Jawa pada khususnya amat menarik, dikarenakan sebagian besar dengan pendekatan sosial - budaya, dan dilaksanakan dengan damai. Pada data semacam notilen musyawarah para ulama awal penyebaran Islam dinyatakan antara lain:
“ Ngenani anane sumawana kiprah mekare tsaqofah Hindu ing Nusa
salaladane, kewajibane para wali arep alaku tut wuri hangiseni,
darapon supaya sanak-kadang Hindu malah lega-legawa manjing
ing Islam “ ( Ki Musa Al Mahfuldz.Wayang; falsafah Jawa Islam.
Pusat Penelitian Kebudayaan UGM, 1984 ).
Kebijakan penyebaran Islam dengan tut wuri hangiseni diwujudkan dengan bentuk akulturasi antara Islam dan budaya lokal yang telah ada.
Sebagai contoh, pada gerakan dakwah ada dua bentuk ( metode air leideng dan air sumur ). Dalam metode air leideng, dilakukan oleh para wali menyebarkan Islam dengan mendatangi masyarakat objek dakwah, sedangkan metode air sumur yaitu dengan mendirikan pondok-pondok pesantren, sehingga yang akan belajar Islam “ngangsu ilmu” mendatangi tempat para ulama. Lembaga pendidikan pada zaman Hindu disebut Padepokan, di dalamnya terdapat Rsi/Begawan dan para Cantrik. Pada zaman Islam lembaga & sistem pendidikan ini tetap digunakan, namun diubah namanya jadi Pondok dan gurunya disebut Kyai, muridnya disebut Santri.( tempat para santri mondok / belajar disebut Pa-Santri-an=Pesantren ).
Adapun nama Kyai berasal dari Rakya-i ( sansekerta ) atau Kya-hi ( cina ), yang bererti orang yang dihormati/terhormat. (Ahmad Adaby Darban, Fragmenta Sejarah Islam Indonesia. JP.Books, 2008,hlm 4-5 ).
Dakwah yang langsung ke masyarakat dilakukan oleh para ulama dengan menggunakan budaya lokal yang ada seperrti Wayang, musik Gamelan, tembang Mocopat, dan berbagai upacara keagamaan. Dakwah semacam ini telah direncanakan oleh para wali pemula penyebar Islam di Jawa.

TENTANG WALI
Nama Wali Sanga sangat dikenal dan akrab di kalangan masyarakat Jawa, sebagai sebutan bagi nama ulama’ awal penyebar Agama Islam di Jawa. Nama Wali Sanga berasal dari dua kata yaitu wali yang berasal dari bahasa Arab Waliyullah berarti orang yang mencintai dan sekaligus dicantai Allah Swt., sedangkan kata sanga berasal dari bahasa Jawa yang berarti sembilan. ( Ridin Sofwan dkk.,Islamisasi di Jawa.2004, hlm.7 ). Dengan demikian maka Wali Sanga adalah sembilan orang ulama yang dicintai dan mencintai Allah Swt., yang dipandang sebagai ketua kelompok dari sejumlah besar muballigh yang berdakwah menyebarkan Islam pada dekade awal di Jawa.
Nama Wali Sanga pada umumnya digelari dengan Sunan berasal dari kata Suhu nan ( dari bahasa cina yang artinya Guru atau Pujangga ), atau dari bahasa Jawa Suhun è Susuhunan yang berarti sangat hormat / sangat dihormati.

Asal usul para Wali terdapat berbagai pendapat, namun dapat ditarik kesimpulan bahwa para wali itu ada yang memiliki darah campuran antara lain dengan bangsa Arab, Persia, IndoChina, Campa, China, dengan asli Nusantara. Sebagai contoh antara lain, dalam serat Babad Tanah Jawi disebutkan bahwa Raden Patah adalah peranakan China, dari ayah Prabu Brawijaya dan ibu seorang puteri China/ Campa. Namun menurut De Graaf dan Pigeud, Raden Patah ada keturunan China Mongolia ( berdasarkan Hikayat Hasanuddin ).
Demikian pula dengan Sunan Gunung Jati, yang sering disebut dengan nama Fatahillah, Falatehan, dan Syarif Hidayatullah, menurut beberapa ketarangan berasal dari Pasai ( Aceh ), ada pula yang mengatakan berasal dari keturunan Puteri Rara Santang dari Pajajaran yang nikah dengan Sultan Mesir ( sumber: Bahan-bahan Sejarah Islam di Jawa Tengan Bagian Utara. Lembaga Research & Survey IAIN Wali Songo, 1982.,hlm.19-20 ). Adapun Sunan Kalijaga sering disebut berdarah asli Jawa, namun juga ada yang menyatakan ada keturunan Arab ( dari Brandal lokajaya atau Raden Syahid ).
Menurut kebiasaan lazimnya pada waktu itu, penyebutan nama wali tidak diikuti oleh nama aslinya, namun dengan nama tempat di mana wali itu tinggal atau berda’wah, seperti,
Sunan Ampel, namanya R. Rahmat
Sunan Giri, namanya Raden Paku atau Satmoko
Sunan Gunung Jati, namanya Fatahillah, Falatehan, Syarif Hidayatullah
Sunan Bonang, namanya Makdum Ibrahim
Sunan Kudus, namanya Ja’far Shadiq
Sunan Drajat, namanya R. Qosim
Sunan Kalijaga, namanya R. Syahid
Sunan Muria, namanya R. Prawata
Syeh Maulana Malik Ibrahim.

Para wali memiliki peran yang banyak antara lain ialah :
Sebagai Waliullah è orang yang dekat dengan Allah, terlindungi dan terpelihara dari kemaksiatan, menjadi “uswatun Khasanah” ( suri tauladan ) bagi murid dan umat yang diasuhnya.
Sebagai Waliyul’Amriè orang yang memegang kekuasaan atas hukum Islam, memimpin dan sebagai penentu ( key person ) urusan umat, baik dalam bidang duniawi maupun akhrowi.
Ikut menentukan masalah pemerintahan dan perjuangan pengem- bangan agama Islam. Dapat muncul sebagai Da’i/Muballigh, namun juga dapat muncul sebagai panglima perang, serta bersama partisipasi umat berjuang mengusahakan kesejahteraan hidup bersama ( merakyat ).
KISAH SINGKAT PARA WALI
SUNAN MAULANA MALIK IBRAHIM
Dalam Babad Tanah Jawa disebut Makdum Brahim Asmara, dan sering dipanggil dengan Syekh Maulana Maghribi. Asalnya dari Samarakandhi, kemudian bermukim sementara di Campa, setelah itu meneruskan perjalanan dan menetap di Jawa Timur ( Wafat 1419 M, dimakamkan di Gresik ).( Asnan Wahyudi Abu Kholid, Kisah Walisongo. Surabaya: Karya Ilmu, hlm17 ).
Dalam kisah disebutkan memiliki ilmu Al Qur’an yang mumpuni, sehingga dapat menaklukkan para perampok penganggu masyarakat yang berkekuatan ilmu Ilblis. Ia pun berhasil menghapuskan upacara pengorbanan nyawa gadis untuk meminta hujan, dengan memasyarakatkan Sholat Istiqo’, dan berhasil dengan baik.
Maulana Malik Ibrahim dalam penyebaran Islam tidak secara langsung mengajarkan Islam, namun melalui pemenuhan kebutuhan pokok hidup manusia. Dengan demikian ia berhasil menarik simpati masyarakat luas dan mendorong kesadaran masuk agama Islam.

SUNAN AMPEL
Nama aslinya R. Rahmat, ayahnya bernama Maulana Isqak ( saudara Maulana Malik Ibrahim ). Maulana Isqak beristeri Puteri Campa, melahirkan R. Rahmat (S.Ampel) dan Sayid Aqi Murtadlo ( R. Santri ). Sunan Ampel dikenal sebagai pemula pendiri Pondok-Pesantren, sebagai pusat pengkaderan para ulama penyebar Islam. Para kader santrinya seperti R. Paku ( S. Giri ), R. Patah ( Sultan Demak ), Makdum Ibrahim (putranya disebut S.Bonang), dan Syarifuddin (putera kenuanya, yang kemudian jadi S. Drajat).
Sunan Ampel diperkirakan sampai di Jawa sebelum tahun 1446M, karena sebelumnya singgah di Palembang pada tahun 1443 (menurut Tome Pires ) 1440( menurut De Holder ). Oleh Adipati Terung, R. Rahmat ditempatkan di Ampel, dekat Surabaya. Dari sinilah mulai menyebarkan Islam dan mendirikan Pondok Pesantren Ampel Dento, sehingga disebut Sunan Ampel, yang kemudian dikenal sebagai pemula penyebaran Islam di Jawa dan Madura. Majapahit melihat perkembangan Islam ini, kemudian justeru didekati, bahkan R. Rahmat ( S. Ampel ) dinikahkan dengan puteri Majapahit ( Nyai Tilan atau Ni Gede Manila/ Nyai Tilan, puteri Tumenggung Wilatikta, dalam Babad Tanah Jawi ). Sunan Ampel wafat pada tahun 1481 – dalamBabad Gresik ).

SUNAN GIRI
Namanya adalah Muhammad ’Ainul Yaqin atau Raden Paku, putera Isqak Ma’shum. Menurut tradidi Cirebonan, Sunan Giri adalah putera Maulana Isqak, kedua silsilahnya sampai pada Fathimah Al Zahro dan Ali bin Abi Thalib. Nama Sunan Giri termasuk disebut semua dalam 3 versi penyebutan wali ( Versi Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur).
Sunan Giri adalah wali yang merencanakan berdirinya Negara Islam pertama di Jawa, yakni Bintara Demak, dan sebagai penasehat militer negara tersebut. Sunan Giri lah yang memberikan gelar Sultan untuk R.Patah menjadi raja Demak yaitu Sultan Akbar ( dalam sumbar Belanda, S. Giri disebut Mohamedanich Paus, atau ”Paus van Java”).
Ketika Majapahit lemah, kemudian diserang dan dikuasai oleh dinasti Girindrawardhana ( Kediri ), maka R. Patah sebagai pewaris Majapahit berusaha merebutnya kembali. Dalam penyerangan itulag S. Giri sebagai penyusun strategi, dan sebagai pelaksananya adalah Panglima Sunan Bonang, dan serangan itu berhasil baik.
S. Giri diakui sebagai yang paling menguasai Agama Islam, oleh karena itu, ketika muncul penyimpangan Syekh Siti Jenar, maka S. Girilah yang memberikan strategi untuk menangkap dan menghukum, serta eksekusi bunuh ( karena mengajarkan agama dengan sesat dan mengacaukan masyarakat ). Ajaran sesat itu kemudian diluruskan.
SUNAN BONANG
Aslinya bernama Raden Makdum Ibrahim ( putera Sunan Ampel dan cucu Maulana Malik Ibrahim ), saudara Sunan Drajat. Dari ibunya Nyi Ageng Malaka ( dewi Candrawati ) adalah puteri Brawijaya dari Majapahit ( sumber: Bahan-bahan Sejarah Islam di Jawa tengah Bagian Utara.Semarang: Lembaga Research & Survey IAIN Walisongo,1982 ).
Peran Sunan Bonang antara lain ialah :
Pertama, termasuk yang ikut mendirikan Kerajaan Demak, kemudian menjadi Panglima Tertinggi Angkatan Perang Demak. Sebagai pemimpin sidang kasus Syekh Siti Jenar, Sidang Pendirian Masjid Demak, dan juga memimpin pengangkaktan R.Patah sebagai Sultan demak.
Kedua, Sunan Bonang berdakwah di Tuban, Pati, Madura, dan P.Bawean. Dalam berdakwah menggunakan perangkat Gamelan dengan Gendhing-geding bernuansa Dakwah. S. Bonang termasuk pencipta tembang dan gending bernafaskan Islam, yang amat disukai masyarakat, sehingga menarik masuarakar untuk memeluk agama Islam.
Ketiga, melawan para pendeta yang mengobarkan ilmu gaib ( sihir ), dalam rangka menyakinkan bahwa ajaran Islam itu dapat mengalahkan segala ilmu hitam yang mencekam kehidupan masyarakat. Keberhasilan Sunan Bonang melawan para pendekar ilmu hitam itu, dapat sambutan positif dari masyarakat.
Sunan Bonang berdakwah keliling daerah mulai dari Tuban, sampai Madura dan Bawean, yang akhirnya iapun wafat di P. Bawean, kemudian dimakamkan di Tuban, meskipun sebelumnya masyarakat Bawean memginginkan di makam Bawean.Ajaran Sunan Bonang telah dihimpun dalam Het Boek Van Bonang, yang apabila dikaji isi ajarannya mengandung ajaran dari beberapa kitab, antara lain : Ihya’ Ulumuddin ( Imam Ghazali ); Quth Al-Qulub ( Abu Tholib Al-Makky ); dan Hayatul Auliya’( Abu Nu’aim al Isfahani ). ( sumber: Ridin Sofwan, Islamisasi di Jawa.( Jogjakarta:Pustaka Pelajar, 2004, hlm.78 ).
SUNAN KALIJAGA
Nama aslinya adalah Raden Said, waktu mudanya dikenal sebagai Brandal lokajaya. Nama panggilannya yang lain adalah Pangeran Tuban, Raden Abdurrahman, dan Syekh Mlaya. ( sumber: Bahan-bahan Sejarah Islam.....,1982,hlm.17). Menurut berita dalam Babad Tanah Jawi, disebutkan bahwa Sunan Kalijaga adalah putera Tumenggung Wilatikta.
Menurut Babad Majapahit dan Babad Para Wali, Sunan Kalijaga dikukuhkan di hadapan Sunan Giri sebagai Ketua Para Wali di Jawa.

Beberapa hal yang dilakukan oleh S. Kalijaga, antara lain:
Ketika membangun Masjid Demak, S. Kalijaga seangaja membuat ”soko tatal”, yang maksudnya sebagai lambang kebersamaan-persatuan ( dengan bersatu, membuat soko guru yang kokoh ).
Memberantas ajaran yang melenceng dari akidah, yaitu ajaran sesat ”wahdatul Wujud” atau ”Manunggaling Kawula Gusti”, yang diajarkan oleh Syekh Siti Jenar. Menurut Serat Kandaning Ringgit Purwa, dituturkan bahwa Syekh Siti Jenar disidang oleh para wali, termasuk S. Kalijaga, setelah bebar-benar positif Siti Jenar mengakui bahwa dirinya adalah Allah, maka dijatuhi hukuman mati. Kasus ini merupakan tindakan yang tegas dari para wali menghadapi aliran sesat Pantheisme, yang membahayakan akidah Islamiyah, merusak kehidupan beragama yang benar. Dalam hal ini Sunan Kalijaga tidak punya kompromi & bertindak tegas, untuk menyelamatkan masyarakat.
Dalam hal lain, ketika menghadapi agama Hindu/Budha, yang dipakai S.Kalijaga adalah pendekatan budaya, sufistik, namun tetap menjalankan Aqidah Ahlussunnah wal jama’ah. S. Kalijaga lebih berdakwah lebih memperhatikan situasi dan kondisi yang dihadapi, dengan mengadakan perubahan gradual, sedikit demi sedikit memberikan pengaruh Islam pada yang lama, dan tidak menunjukkan radikalitas. Dengan mengisi yang sudah ada, dengan nafas Islam yang semakin lama menjadi Islam yang dominan. Beberapa contoh yang dilakukan oleh S. Kalijaga, antara lain:
Meletakkan motif sengkalan berbentuk Bulus ( hewan yang dianggap suci oleh orang Budha ) pada mihrab Masjid Demak. Dengan demikian, manjadi daya tarik orang yang dulunya Budha mau memeluk Islam.
S.Kalijaga sebagai salah satu pencipta Gamelan Sekaten ( Syahadaten ), yang gendingnya bernama ”Salatun”, ”Sholawatun”, dan ”Rambu” (dari kata Robbul’alamina) ( Ahmad Adaby Darban, Fragmenta Sejarah Islam di Indonesia, hlm. 9 ). Menciptakan jenis dan model pakaian ”Taqwo” ( taqwa ), yang dibuat menutup aurath rapat dan rapi, khas sebagai busana Jawa Islam.
S. Kalijaga juga ikut membesut Wayang Purwa, menjadi pedalangan wayang kulit yang menjadi media dakwah efektik bagi masyarakat Jawa. Pada wayang ini S. Kalijaga bersama S. Bonang, dan S. Ampel ( Janget Tinatelon ), menambah kreasi ceritera seperti Dewa Ruci dan adanya Punokawan ( Semar, Gareng, Petruk, Bagong, Togog, dan lainnya ).
Bersama S.Bonang, S.Kalijaga mumbuat tembang Mocopat, dan permainan anak-anak seperti ”Jethungan”. Tembang yang terkenal seperti Ilir-ilir, kemudian Mocopat sepertia Dandang Gula, Sinom, Megatruh dan sebagainya.
S. Kalijaga juga dikenal sebagai perencana tata-letak ibukota karajaan Demak, yang kemudian ditiru di setiap kabupaten di pulau Jawa ini. Seperti Kraton, Alun-alun dengan 2 pohon beringin ditengahnya ( dua kalimah Syahadat ), dan 99 pohon beringin di sekitarnya ( Asma’ul Husna ). Tata letak itu didasarkan atas falsafah ”Baldatun Toyyibatun wa Robbun Ghofur” ( Ridin Sofwan dkk., Islamisasi Jawa. hlm.122 ).
Tentang wafatnya S. Kalijaga tdak terdapat tanda atau prasasti, namun dimakamkan di Kadilangu dekat Demak.




SUNAN KUDUS
Nama aslinya Ja’far Shiddiq atau Raden Fatihan, putera S. Ngundung dan Syarifah (cucu S. Ampel). Ia diangkat sebagai Penghulu di Kraton Demak. Dalam rangka perang menghadapi Majapahit yang diduduki oleh dinasti Grindawardhana, Jakfar Shodiq diangkat jadi panglima perang melawan Majapahit. Dalam misinya menyerbu Majapahit, ia dibantu oleh para bupati yang sudah Moslem, antara lain Bupati madura, Adipati Sumenep, Pamekasan, Balega, Panaraga, bersatu melawan Majapahit, dan berhasil membedah Majapahit.. Setelah menaklukkan Majapahit, maka diteruskan menaklukkan Pengging dibawah Adipati Handayaningrat.yang berniat ingin merdeka dari Demak.
Dalam rangka menarik umat Hindu masuk Islam, Sunan Kudus menambatkan seekor lembu di pohon halaman Masjid Menara Kudus. Kemudia iapun berfatwa, bahwa masyarakat kudus tidak boleh menyembelih sapi ( yang dipuja orang Buda ). Melihat hal ini warga Budha, sangat menghargai S. Kudus, dan bahkan ingin masuk agama Islam. Masih banyak lagi kisah S. Kudus.

SUNAN DRAJAT
Nama aslinya ialah Raden Qosim sering disebut juga Raden Syaifuddin, adalah putera S. Ampel. Sunan Drajat mendapat tugas dari ayahandanya untuk berdakwah di sebelah barat Gresik, namun kapal yang dinaikinya dibawa ombak, maka ia terdampar di Jelog, Banjarwati Paciran. Ia mulai dengan mendirikan Pondok-Pesantren, yang dalam waktu singkat banyak yang berguru di pesantrennya.
S. Drajat kemudian pindah ke arah selatan, yaitu sekarang namanya nDalem Duwur. Di tempat inilah ia lebih mendapat dukungan dan penganut yang lebih banyak. Adapun metode dakwahnya adalah lebih melalui kesenian, yaitu membuat Syair dan Lagu Jawa. Ajarannya yang dikenal antara lain :
” Berikanlah tongkat pada orang buta ”,
” Berikanlah makan pada orang yang lapar ”
” Berikanlah pakaian kepada orang yang telanjang ”,
” Berikanlah tempat berteduh bagi orang yang kehujanan ”.
Sunan Drajat dimakamkan di Desa Drajat, Paciran Lamongan .

SUNAN MURIA
Nama aslinya adalah Raden Umar Said, putera S. Kalijaga. Menurut CLN Van Den Berg, dalam bukunya De Hedramaut et les Colonies Arabes, dinyatakan bahawa para wali termasuk Sunan Muria itu adalah keturunan Arab. Demikian pula menurut buku Pustoko Darah Agung, dinyatakan bahwa Sunan Muria adalah keturunan Arab.
Cara berdakwah S. Muria mengikuti S. Kalijaga, yaitu tradisi lama yang sudah ada tidak dibabat, namun diberi nafas Islam. Ia menyebarkan Islam di daerah-daerah Jepara, Kudus Trayu dan Juana. Dalam berda’wah menggunakan lagu Mocopat, yang paling digemari adalah Sinom.

SUNAN GUNUNG JATI
Nama aslinya adalah Syarif Hidayatullah/ Fatahillah / Falatehan. Ia keturunan ibunya adalah puteri dari raja Pajajaran, dan ayahnya raja Mesir. Sejak umur 14 tahun ia telah giat belajar agama Islam, dan pada masa remajanya ia pun telah mempelajari ilmu-ilmu hakikat dari Nabi Muhammad Saw., Nabi Khidhir, Nabi Musa, dan Nabi Sulaiman.
Kegiatan Sunan Gunung Jati antara lain :
Dikenal sebagai penegak Islam dan penyebar Islam di Jawa, dan memiliki wewenang dua tugas, yaitu berhak mendirikan kadaulatan di Cirebon ( karena anak putri Pajajaran ), dan punya wewenang penyebar agama Islam, karena dianggap keturunan Nabi Muhammad Saw.. Ia termasuk yang kemudian mendirikan Kerajaan Cirebon dan Kerajaan Banten. Meskipun demikian, Sunan Gunung Jati tidak mau mendudukkan dirinya sebagai raja, ia lebih suka berkhidmad pada bidang dakwah/ penyiaran Islam di Jawa, Khususnya Jawa Barat.
Sunan Gunung Jati atau Fatahillah/ Falatehan / Syarif Hidayatullah, punya jasa besar membentengi Pulau Jawa dari pendudukan Portugis. Ketika Portugis akan menjajah pelabuhan Sunda Kelapa, maka berhasil digagalkan dan dikalahkan oleh Fatahillah, kemudian pelabuhan itu diubah namanya dengan Jayakarta ( Jakarta ).

KHOTIMAH
Kisah Walisongo ini dikutip dari beberapa sumber sejarah yang sangat terbatas. Basih banyak sumber sejarah lain yang mengkisahkan Walisongo dengan beberapa versi yang berbeda. Oleh karena itu, persoalan Walisongo ini masih perlu dikaji dan diteliti terus menerus, sehingga dapat tuntas.
Oleh karena keterbatasan sumber ketika menyusun makalah ini, maka apabila ada sumber-sumber lain yang mungkin lebih akurat, akan dapat menyempurnakannya.
Sebagai harapan, dengan mempelajari Walisongo ini, kita akan lebih bijak dalam berda’wah, dan kitapun akan dapat lebih memahami proses perjalanan sejarah umat Islam di Indonesia sampai hari ini.
Do’a kita, semoga Allah Swt. meberikan pahala pada para Mujahid Da’wah Walisongo dan wali-wali atau ulama-ulama semuanya, yang telah berjuangan untuk menyebarkan dan memperjuangkan Islam di Indonesia. Amien.
Jogjakarta, 18 September 2008
Ahmad Adaby Darban
adaby__kauman@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar