Kamis, 24 September 2009

UNSUR MEREDAM KONFLIK DALAM BUDAYA JAWA

UNSUR-UNSUR BUDAYA JAWA
DALAM MEREDAM KONFLIK
Oleh : A. ADABY DARBAN

I. PENDAHULUAN
Kebudayaan pada dasarnya merupakan produk atau buah budi kelompok manusia, di dalamnya terdapat sistem nilai yang dihayati oleh sekelompoki manusia. Dengan demikian, maka Kebudayaan Jawa pada dasarnya merupakan produk atau buah budi kelompok manusia Jawa, yang sekaligus di dalamnya terdapat sistem nilai yang dihayati oleh orang Jawa.

Kebudayaan dapat dibedakan menjadi dua sifat, pertama bersifat fisik yaitu hasil kebudayaan yang dapat disentuh secara fisik, misalnya rumah adat, kraton, benteng, tempat ibadah, dan sebagainya. Adapun yang kedua hasil kebudayaan yang tidak dapat disentuh secara fisik, misalnya adat-istiadat, hasil pemikiran, pendidikan, hukum, perulaku kolektif, dan sebagainya.

Pada makalah pendek ini hanyalah menyajikan bagian kecil dari unsur-unsur Kebudayaan Jawa yang bersifat non fisik, khusunya pada nilai-nilai yang berhubungan dengan upaya meredam konflik. Dalam masalah meredam konflik, Kebudayaan Jawa memiliki nilai-nilai yang dapat dibaca dari beberapa ungkapan bermakna dalam, dan dijadikan pendidikan dalam masyarakat Jawa.

Meskipun nilai-nilai Kebudayaan Jawa seharusnya berlaku dalam masyarakat Jawa, namun pada tingkat atualisasi atas nilai-nilai budaya itu dapat berjalan beda. Perbedaan ini perlu disadari bahwa sama-sama orang Jawa pada tempat dan kondisi serta situasi yang dihadapi berbeda akan memunculkan prilaku masyarakat yang beda . Di samping itu, adanya perbedaan latar hitorisnya, juga dapat memunculkan prilaku masyarakat yang berbeda pula.

II. UNSUR-UNSUR KEBUDAYAAN JAWA DALAM MEREDAM KONFLIK

Dalam masyarakat Jawa dikenal adanya kaidah dasar antara lain ialah, pertama Prinsip Rukun, yaitu adanya konsep keserasian hubungan antar manusia yang bersifat horisontal, dengan upaya mewujudkan dan mempertahankan masyarakat dalam keadaan yang harmonis, yaitu selaras, tenang, dan tentram, bersatu saling membantu ( Gotong-Royong ). Adapun kedua, Prinsip Hormat, yaitu adanya konsep keserasian hubungan antar manusia yang bersifat vertikal, menyangkut hubungan herarkis antar individu. Dengan kata lain, adanya kesediaan warga masyarakat untuk menempatkan individu lain pada tempat individu itu dalam struktur sosial dan atau kerumah- tanggaan. Sikap hormat ini dalam tingkah laku dapat diujudkan antara lain dengan unggah-ungguh, dan pada tingkatan bahasa. ( lihat Cliford Geertz, The Religion of Jawa, 1960 ).

Selain Rukun dan Hormat, juga terdapat ungkapan “ tepa selira” adalah suatu usaha untuk tidak melakukan tindakan yang dapat menganggu ketentraman dan perasaan orang lain. Dengan tepa selira berarti orang berusaha untuk melakukan tindakan dengan mempertimbangkan pereasaan-perasaan dan posisi psikologis terhadap orang lain yang akan terkena akibatnya. Dengan kata lain konsep ini merupakan konsep yang berusaha menjaga keseimbangan bathin orang lain, atau diarahkan pada usaha untuk memelihara ketentraman bathin orang lain. ( lihat Umar Kayam, Konsep Keselarasan Sosial Jawa dan Pelaksanaan Swasembada Pangan, 1986 ).

Ungkapan kata “Rukun agawe santosa, crah agawe bubrah” yang artinya kerukunan akan menjadikan kuat, sedangkan konflik akan menjadikan kerusakan. Dalam masyarakat Jawa, pada pinsipnya konflik merupakan perbuatan yang tercela, dan harus sedapat mungkin dihindari. Sebaliknya kerukunan, kebersamaan, persatuan dan persaudaraan perlu diwujudkan untuk membuat kekuatan dalam hidup bermasyarakat.

Hormat lebih banyak berkaitan dengan pemeliharaan keharmonisan dalam herarki sosial. Dalam hal ini adanya usaha menempatkan orang lain pada tempat yang didudukinya (statusnya), seperti antara lain dengan kedua orang tua dan orang yang lebih tua, dengan guru, dengan pejabat dan tokoh-tokoh yang dihormati.

Selain rukun, hormat, dan tepa selira, ada bebera unsur yang mendukung untuk meredap konflik, unsur-unsur itu antara lain :

Ungkapan “ ngalah gedhe wekasane”, mengalah besar penghargaannya, di sini kensep “ngalah” tidak berarti kalah, akan tetapi ada kesengajaan tidak mengadakan perlawanan, demi masa depan yang lebih baik atau besar manfaatnya.

Ungkapan kata “ aja dumeh “, ungkapan ini diperuntukkan bagi orang-orang yang sedang mendapat kekuatan, kekuasaan, kekayaan, kesempatan, dan berbagai kelebihan lain, yang akan menjurus ketingkah laku merugikan dan dapat menimbulkan konflik. Tingkah laku itu antara lain, takabur-kibir-congkak-sombong, merendahkan orang lain, serta menindas-medlolimi orang lain. Sepadan dengan ungkapan itu ialah “ adigang-adigung-adiguna”.

Ungkapan kata “ sing sabar, subur “, artinya bagi orang yeng sabar itu akan mendapatkan kesejahteraan dan keselamatan, serta terhindar dari konlik. Dalam hal ini adalah apabila menyelesaikan segala masalah tidak boleh gegabah, dalam mengusahakan sesuatu tidak “ nggege mangsa” atau jalan pintas tidak melalui prosedur yang benar. Berlaku sabar itu dilakukan dengan perhitungan cermat-strategi-prosedur yang benar, sehingga akan membuahkan hasil yang baik tanpa benturan konflik.

Istilah “rembug bareng”(musyawarah), dalam memecahkan persoalan dan memutuskan sesuatu yang menyangkut kepentingan orang banyak, dilakukan dengan musyawarah. Dengan menggunakan musyawarah ini akan dapat menghasilkan keputusan atau kesepakatan yang dapat memuaskan sebagian besar warga masyarakatnya. Dengan demikian dapat meredam munculnya konflik dalam masyarakat.

Unsur-unsur Kebudayaan Jawa di atas merupakan prinsip dan atau konsep yang tumbuh berkembang dalam masyarakat Jawa. Unsur-unsur itu dapat lestari dan akan dijalankan oleh masyarakat Jawa , apabila sosialisasi dijalankan secara terus menerus lewat berbagai media, dan mampu bersaing dengan unsur-unsur budaya lain yang akan mempengaruhinya.

III. UNSUR KEBUDAYAAN JAWA – MEREDAM KONFLIK – DI JOGJAKARTA

Jogjakarta dan Surakarta dikenal sebagai pusat Kebudayaan Jawa, dalam aktualisasi kehidupan masyarakatnya terdapat persamaan dan perbedaan. Keduanya memiliki cirikhas tertentu, yang terbentuk dari perjalanan historisnya, lingkungan sosial-ekonomi-politik yang dihadapi berbeda. Tulisan ini dibatasi dan berusaha untuk mengungkap bagaimana peran unsur-unsur Kebudayaan Jawa itu dalam meredam konflik.

1. Perjalanan sejarah Jogjakarta tidak dapat dipisahkan dengan peranan Kerajaan Ngayogjakarta Hadiningrat. Jiwa dan semangat patriotik yang dimiliki oleh Sri Sultan Hamengku Buwana IX, dalam perjuangannya bersama masyarakat melawan penjajahan, dan keberpihakannya secara tegas kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia, mendapatkan dukungan,simpati, dan penghargaan dari masyarakatnya bahkan bangsa Indonesia. Hal inilah yang menjadikan kewibawaan keraton Jogjakarta sebagai pengawal Kebudayaan Jawa, masih dihormati, disegani, sekaligus masih punya pengaruh pada masyarakat. Oleh karena itu, Sultan senagai pewaris tahta kraton Jogjakarta, masih punya kewibawaan khas, dan punya peranan dalam meredam adanya konflik di Jogjakarta.
2. Lahirnya dua organisasi kebangsaan besar dalam bidang pendidikan dan keagamaan, yaitu Muhammadiyah dan Taman Siswa, yang kemudian disusul berdirinya perguruan tinggi tertua yang didirikan oleh bangsa Indonesia, yaitu UII dan UGM, yang kesemuanya itu di Jogjakarta, menumbuhkan nuansa kependidikan bagi masyarakatnya. Jogjakarta menjadi “Kota Pelajar”, yang punya daya tarik dan daya undang dari bernagai daerah Indonesia untuk belajar di Jogjakarta. Meskipun kemudian masyarakat Jogjakarta menjadi heterogen, namun heterogenitasnya ditumpu dengan pendidikan, sehingga potensi konflik kecil. Merega membaur dengan masyarakat asli, dan saling mengenal serta menghormati prilaku budayanya.
3. Jogjakarta bukan kota industri, dan bukan pula kota ekonomi/perdagangan, sehingga dinamika meterialnya tidak begitu menonjol. Jogjakarta tidak seperti kota industri maupun kota dagang, yang memiliki gap antara Majikan dan Buruh, antara kaya dan miskin yang menonjol, sehingga punya potensi konflik yang kuat. Dengan demikian Jogjakarta dapat dikatan relatif tentram dan bila ada gejala konflik mudah segera diatasi.

IV. PENUTUP

Apabila ke tiga indikator itu merupakan cirikhas Jogjakarta sebagai daerah yang relatif mudah meredam konflik, namun godaan konflik pun sering terjadi akibat beberapa gesekan antara lain, masalah politik, per-gali-an, tempat-tempat hiburan malam, munculnya “gang pelajar”, dan sebagainya. Oleh karena itu, Warga masyarakat Jogjakarta bersama dengan pamong daerah dan aparat keamanan, serta para pendidik dan pemuka agama, diharapkan memiliki tekad yang bulat, untuk berperanserta meredam konflik dan menumbuhkan kehidupan yang hormonis di Jogjakarta.

Unsur-unsur Kebudayaan Jawa itu akan bermanfaat, apabila dimengerti dan dipahami oleh masyarakatnya. Oleh karena itu, sosialisasi unsur-unsur Kebudayaan Jawa terus dilakukan, meskipun sampai abad ini.
UNSUR-UNSUR BUDAYA JAWA
DALAM MEREDAM KONFLIK





Oleh : AHMAD ADABY DARBAN





Disampaikan Dalam Kegiatan Sarasehan Tentang Pemberdayaan
Kearifan Lokal Pada Daerah Rawan Konflik



Dinas Sosial DIY
Oktober 2004

1 komentar:

  1. matur nuwun kang,aku wes ngerti saiki tentang meredam konflik budaya di tanah air.

    BalasHapus