Senin, 02 April 2012

PENGEMBANGAN DAN PEMANFAATAN MEMORY KOLEKTIF DAN KAJIAN SEJARAH DALAM PROSES PEMBELAJARAN SEJARAH



PENGEMBANGAN DAN PEMANFAATAN MEMORY KOLEKTIF DAN KAJIAN SEJARAH DALAM PROSES  PEMBELAJARAN SEJARAH


Oleh :
Ahmad  Adaby  Darban


Dari Jurusan Sejarah
Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta
Yogyakarta, Indonesia.

I
Memori kolektif tidak dapat dipisahkan dengan sejarah Lisan, yang didalamnya terdapat penuturan lisan dari para pelaku atau penyaksi suatu peristiwa sejarah tertentu. Dalam memburu sumber lisan para sejarawan akan “berpacu dengan Malaikat”, sebab para sumber lisan memiliki keterbatasan umur dalam kehidupannya, dibandingkan dengan sumber sejarah lainnya, seperti arsip, prasasti, lontara, dan sebagainya. Sumber lisan tidaklah terbatas pada kelompok masyarakat yang berada di lokasi tertentu, namun juga pelisan dapat menjadi sumber lisan dalam peristiwa sejarah yang lingkupnya nasional, dalam hal ini tergantung pada kapasitas tokoh yang menjadi sumber lisan.

            Dalam rangka menyelematkan informasi dari memori sumber lisan, maka sangat diperlukan adanya usaha mengumpulkan dan mengkoleksi informasi lisan tentang peristiwa sejarah sebanyak-banyaknya, atau semaksimal mungkin. Dengan demikian, khususnya untuk sumber sejarah Indonesia Kontemporer akan lebih kaya, dan memiliki wawasan perbandingan sumber yang lebih banyak dan akurat. Untuk kepentingan ini, maka diperlukan adanya sosialisasi pendalaman metode dan praktek Sejarah Lisan, baik bagi para dosen maupun para mahasiswa sejarah dan peminat sejarah. Seperti halnya yang telah dilakukan oleh Arsip Nasional RI beberapa tahun yang lalu, perlu diteruskan, bahkan lebih dikembangkan pada saat ini.
            Selain memburu sumber lisan untuk keperluan Sejarah Lisan dan lebih lanjut dapat digunakan bagi para peneliti/penulis sejarah, juga sangat diperlukan adanya Sosialisasi Memori Kolektif para sumber lisan kepada masyarakat luas, khususnya generasi muda, para pelajar, dan mahasiswa. Adapun media untuk sosialisasi itu, antara lain sering diadakan “Temu Pelaku dan Penyaksi Sejarah dengan Generasi Muda dan Masyarakat Luas”. Aktivitas ini perlu ditangani oleh para sejarawan (MSI dan bekerjasama dengan lembaga-lembag lain.
            Pada bagian pertama makalah ini akan diperkaya dengan proses memburu sumber lisan, mengkritisi sumber lisan dan informasinya, transkripsi, sampai dengan penyimpanan dan pelayanan bagi peneliti yang akan menggunakan hasil Sejarah Lisan.

II
            Memori kolektif yang sengaja disusun sebagai “Buku Ajar” di sekolah-sekolah memiliki peran yang penting baik bagi pendidikan dan sosialisasi sejarah bagi generasi muda. Sebagai buku ajar, memori kolektif sebaiknya dibagi menjadi dua bentuk: bentuk pertama “Buku Ajar yang mengajarkan Sejarah sebagai Ilmu Sejarah”, dan bentuk yang kedua “Buku Ajar Sejarah dalam rangka Pendidikan Nation Building dan Character Building”.

            Bentuk buku ajar yang pertama adalah murni menyajikan Ilmu Sejarah, dalam arti membelajarkan keilmuan sejarah secara substansial, dengan penjelasan keilmuan. Dalam membelajarkan sejarah pada bagian ini tentu saja menggunakan Historical Explanation secara ilmiah, diupayakan bersih dari tujuan/muatan lain selain ilmu sejarah yang dipelajari.

            Bentuk buku ajar yang kedua adalah menyajikan Sejarah sebagai alat dalam rangka membangun karakter dan semangat nasionalisme. Dalam pelaksanaan pembelajaran sejarah pada bentuk ini bermuatan “agar para siswa yang mempelajari sejarah dapat tumbuh jiwa semangat kebangsaan dan cinta tanah air”.
            Sebenarnya dengan bentuk buku ajar yang pertama, para siswa sudah cukup dapat mengetahui dan memahami Sejarah, dari peristiwa satu ke peristiwa lainnya, dengan sendirinya dapat pula mengambil ajaran yang tersirat dalam setiap peristiwa secara jernih. Namun, masih juga banyak pendapat masih diperlukan bentuk buku yang kedua, yaitu mengandung muatan pembentukan karakter kebangsaan. Hal ini dapat dilakukan asalkan muatan-muatan itu tidak mengaburkan makna peristiwa sejarah itu sendiri, dan tidak membelenggu berfikir, serta tidak bernuansa pesan sponsor dari penguasa.

            Dengan demikian, maka mata pelajaran sejarah di sekolah menengah pertama dan sekolah menengah lanjutan (SMU/SMK) perlu diajarkan dua mata pelajaran sejarah yang memiliki target yang berbeda. Dalam hal ini diharapkan para peserta didik akan lebih mengetahui, memahami, dan dapat membedakan tentang Ilmu Sejarah dan Sejarah sebagai pembentuk karakter.

            Selain perbedaan bentuk buku ajar, juga perlu dibedakan ketika menjelaskan peristiwa menurut jenjang studinya. Oleh karena itu peranan Guru Sejarah sangat penting dalam menjelaskan sejarah kepada para siswanya. Sebagai contoh, pendidikan sejarah untuk Sekolah Dasar (SD), sejarah dapat diajarkan dengan pendekatan estetis. Untuk Sekolah Menengah (SLTP), sejarah dapat diajarkan dengan pendekatan Etis. Untuk siswa tingkat SLTA, sejarah dapat diajarkan dengan pendekatan kritis. Mulai di Perguruan Tinggi, sejarah diajarkan secara akademik (Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah, 1995).

III

            Pada bagian ini akan diungkapkan pengalaman lapangan dalam berdialog dengan para Guru Sejarah di SD, SLTP, SLTA di Daerah Istimewa Yogyakarta. Dalam hal ini MSI Yogyakarta dalam programnya mengadakan “Silaturahmi dengan Guru-Guru Sejarah”, dari pengalaman ini dapat dicatat beberapa problematika pembelajaran sejarah, antara lain:
  1. Adanya perasaan terbelenggu bagi guru dalam mengajarkan sejarah
  2. Adanya ketakutan para guru untuk mengembangkan wawasan sejarah kepada muridnya
  3. Dilematis menghadapi siswa yang kritis terhadap sejarah (informasi di luar buku teks sejarah), sedangkan guru kurang merdeka menjalankan materi pelajaran dari luar buku teks.

Di samping tiga problematika di atas, dapat diamati pula bahwa aktualisasi guru sejarah dalam memberikan pelajaran sejarah dirasa banyak yang masih kurang komunikatif dan menyenangkan siswanya. Hal ini setelah diteliti, ternyata lebih dari 50 % guru sejarah bukan hasil dari lulusan PGSM Sejarah.
            Apabila menginginkan pembelajaran sejarah lebih meningkat ke arah pengetahuan dan pemahaman yang sebenarnya, maka diperlukan beberapa usaha untuk membenahinya, sesuai problem yang menimpa para guru sejarah dan penulis buku ajar sejarah.

IV

Pada bagian ini adalah kesimpulan dari seluruh tulisan, yaitu antara lain:
  1. Sejarah Lisan perlu digiatkan dan juga disosialisasikan.
  2. Buku Ajar Sejarah perlu ditinjau kembali, dan dibedakan antara buku ajar Ilmu Sejarah dan Sejarah dalam arti untuk membentuk karakter bangsa.
  3. Diperlukan penyegaran guru-guru sejarah.

Daftar Pustaka

Baum, Willa, K., Oral History for the Local Historical Society. California: Confrence of California Historical Societies, 1969

Davis, Cullom, et al., Oral History: From Tape to Type. Chicago: American Library Association, 1977.

Hoopes, James, Oral History: An Introduction for Students. California: The University og North California Press, 1980.

Humaniora, No. IV-Th. 1997 Artikel A. Adaby Darban, “Sejarah Lisan Memburu Sumber Sejarah dari Para Pelaku dan Penyaksi Sejarah”.

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, No. 018-Th. Ke 5, 09-1999. Artikel A. Adaby Darban, “Strategi Penyempurnaan Kurikulum Sejarah Untuk SD-SLTP-dan SMU”.






Abstrak Makalah / Paper untuk :
“National Seminar on History and Historiography”
“UNDERSTANDING THE PAST; STRENGTHENING THE FUTURE “
Department of History University Brunei Daarussalaam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar