Senin, 02 April 2012

Silsilah Raja-Raja Kotawaringin ( MENURUT PENELITIAN BEBERAPA SUMBER )


Dalam rangka menelusuri  dan merekonstruksi Sejarah Kotawaringin, diperlukan sebuah studi sejarah yang panjang, dikarenakan harus melalui langkah-langkah yang dapat dipertanggungjawabkan secara metodologis. Langkah-langkah metodologis itu antara lain, pengumpulan sumber, analisis terhadap sumber, interpretasi dan imajinasi terhadap sumber, dan kemudian barulah penulisan kisah, dalam hal ini dibatasi hanya mengungkapkan  ” Silsilah Raja-raja Kotawaringin ”.

Pengumpulan Sumber sumber dari berbagai asal, yaitu sumber tradisi yang ada dan berasal dari daerahnya ( dalam hal ini Kotawaringin dan Banjarmasin ), serta sumber terkait yang berhubungan dengan kerajaan setempat ( misalnya dari pihak Belanda dan Jepang ). Untuk Kotawaringin yang dikaji pada saat ini barulah dapat dikumpulkan sumber-sumber dari tradisi, yaitu :

  1. Hikayat Banjar dan Kotaringin, naskah ini berasal dari Koleksi Perpustakaan Nasional RI dengan kode penyimpanan ML – 48. Naskah ini pun kemudian dialihaksarakan oleh Tim dari Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, diterbitkan oleh Dirjend. Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, 1993.
  2. Ras.J.J., Hikajat Bandjar; A Study in Malay Historiography. Leiden: KITLV- The Hague-Martinus Nijhoff, 1968. Sebuah studi dari Prof. J.J.Ras terntang manuskrip  Hikajat Bandjar yang berada di Negeri Belanda.
  3. Ju Lontaan dan Gm. Sanusi, Mengenal Kabupaten Kotawaringin Barat. Kotawaringin Barat:  Pemda Dati II Kotawaringin Barat, 1976. Sebuah buku yang telah berusaha untuk menguraikan perjalanan Sejarah Kotawaringin.
  4. Silsilah Kekerabatan Kerajaan / Kesultanan Kutaringin di Pangkalan
Buun, dari Kesultanan  I  sampai dengan XIV, Pangkalan Buun: Dinas Pariwisata Seni dan Budaya, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, 2009.
  1. Beberapa makalah, yaitu :
    1. Pangeran Muasjidinsjah, ” Seminar Napak Tilas Kesultanan Kotaringin ”, Palangkaraya,  15 Juni 2008.
    2. Gusti Masyarief, ” Sekilas Sejarah Kotawaringin ”, Kotawaringin: Panitia Seminar Menggali Sejarah Budaya Kesultanan kotawaringin, 2002.
    3. ” Penyusunan Akhir dan Penggandaan Buku Sejarah Kotawaringin Barat ”. ( Executive Summary ), Kotawaringin Barat:  Pemerintah Daerah kotawaringin Barat, 2000.
    4. H. Gusti M, Yusuf, BA ” Silsilah Keturunan dan Sistem Pemerintahan Kesultanan Kotawaringin.” Kotawaringin: Panitia Seminar Menggali Sejarah Budaya Kesultanan Kotawaringin, 2002.
    5. Moh. Muzakka Mussaif , ” Pengaruh Islam dan Jawa dalam Hikayat Banjar ” , http://Staff.undip.ac.id./sastra/muzakka, dl 1-12-2009
           

Sumber-sumber di atas meskipun ada yang dianalisis oleh orang Belanda, namun bahannya dasarnya sama, yaitu dari Hikayat Banjar dan Kotaringin.

Sumber-sumber lain dari Pemerintah Daerah Kotawaringin Barat yang disampaiakan 15 hari yang lalu, berupa hasil penulisan silsilah, makalah-makalah seminar yang pernah diadakan. Sumber-sumber ini punya makna penting, karena partama, ditulis oleh para kerabat sendiri, dan hasil penelusuran yang sudah dianggap matang. Kedua, bahan-bahan itu sebagai sumber lokal yang lebih tahu-dan menghayati keadaan di lingkungannya. Dengan demikian dapat digunakan sebagai bahan kajian dan dikembangkan lebih lanjut.
Adapun sumber tulisan Moh. Muzakka Mussaif, meskipun amat sedikit menyinggung Kotawaringin, namun dapat dijadikan referensi mengenai pengaruh Islam dan Jawa dalam Hikayat Banjar.
Sebenarnya bila ada waktu yang mencukupi, dapat ditelusuri sumber-sumber dari Arsip Belanda dan Arsip Jepang, yang keduanya punya hubung-kait yang juga penting dan dapat dijadikan bandingan dan memperkaya dalam penulisan sejarah  Kotawaringin. Dari kisah yang ada di dalam Hikayat Banjar dan Kotaringin ditulis secara eksplisit  ada hubungan dengan Belanda dan Jepang.  

Dari bacaan sumber tradisi Hikayat Banjarmasin dan Kotaringain, porsi kisah yang terbanyak adalah informasi tentang terbentuknya Kerajaan Banjarmasin, sedangkan informasi kisah tentang Kotaringin hanya pendek, dipenghujung hikayat itu. Atau dengan kata lain, bahwa raja-raja Kotaringin adalah  berasal dan keturunan dari Kerajaaan Banjar.  Oleh karena itu, dalam membicarakan Kerajaan Kotaringin atau Kotawaringin tidak dapat dipisahkan dengan membicarakan Kerajaan Banjarmasin terlebih dahulu.




Berikut ini diusahakan merunut secara singkat tentang terbentuknya Kerajaan Banjarmasin dan Kotawaringin,


 KERAJAAN BANJARMASIN

Asal-muasalnya dari saudagar besar dari Keling bernama Mangkubumi, punya anak laki-laki bernama Ampu Jatmaka, punya  2 orang anak laki-laki bernama Ampu Mandastana dan Lambumangkurat. Sebelum wafat, Mangkubumi berwasiat agar sepeninggalnya nanti, Ampu Jatmaka pergi keluar dari negeri Keling, untuk mencari daerah baru. Setelah Mangkubumi wafat, wasiat itu benar- benar dilaksanakan, ia beserta kedua anak dan hulubalangnya ( Tumenggung Tatahjiwa, Aria Magetsari, dan Wiramartas ) serta mengajak juga punakawannya, pergi meninggalkan Negeri Keling dengan perahu, dan sampailah ke Hujung Tanah ( sesuai dengan wasiat ayahnya, yaitu bila sudah mendaptkan ciri-ciri tanah yang panas dan berbau harum sebagai tempat tinggalnya ). Di Hujung Tanah itulah ia mendirikan sebuah negeri, dinamainya Negeri Dipa, Ampu Jatmika dinobatkan sebagai raja dengan gelar Maharaja di Candi, namun ia merasa bukan keturunan raja, maka iapun mencari raja.  Pada saat sebelum wafat, ia berwasiayat agar sepeninggalnya nanti  kedua puteranya bertapa brata untuk  dapat menemukan seorang yang dapat dijadikan raja negri Dipa.  Usahanya berhasil, Lambumangkurat mendapatkan seorang puteri Junjung Buih, kemudian dinobatkan sebagai raja, dan Ampu Mandastana serta Lambumangkurat  dijadikan penasehat raja.

Putri Junjung Buih dicarikan suami oleh Lambumangkurat, yaitu putera raja Majapahit bernama Raden Putera atau Raden Surianata. Setelah diadakan perkawinan, maka Raden Putera kemudian dinobatkan sebagai raja Negeri Dipa. Hasil perkawinan Putri Junjung Buih dengan Raden Putera menghasilkan dua anak yaitu Raden Suria Gangga wangsa dan adiknya bernama Raden Sui Wangsa. Setelah raja dan isterinya wafat, maka diangkatlah Raden Suria Gangga Wangsa yang masih bujang itu dinobatkan menjadi raja di Kerajaan Dipa.   Raja  Suria Gangga Wangsa kemudian dikawinkan dengan anak Lambumangkurat bernama Puteri Kuripan. Dari perkawinan itu menghasilkan dua orang puteri bernama Puteri Kalarang, dan adiknya bernama Puteri Kalungsu.  Puteri Kalarang kemudian dikawinkan dengan Raden Suria Wangsa, menurunkan seorang anak laki-laki diberi nama Raden Carang Lalewan. Raden Cawang Lalewan dikawinkan dengan Puteri Kalungsu.

Setelah Raja R. Suria Gangga Wangsa dan R. Suria Wangsa wafat, maka Raden Carang Lalewan dinobatkan sebagai raja Negeri Dipa, setelah raja ini wafat digantikan oleh Raden Saria Kaburangan ( nama lain Sekarsungsang atau Raden Mas Lalana ).  Setelah jadi raja, maka Raden Saria Kaburangan memindahkan kerajaanya ke  Muara Ulak. Lambumangkurat dan Puteri Kalungsu wafat, digantikan oleh Aria Tranggana ( anak Aria Magatsari ). Pengganti Raja R. Saria Kaburangan adalah puteranya yaitu Raden Sukarami sebagai Raja Negeri Daha.. Raja ini punya 4 orang putera dan seorang puteri. Nama anaknya itu masing adalah,  Raden Paksa ( P. Mangkubumi ), Raden Panjang ( P. Tomonggong ), Raden Bali ( P. Bagalang ), dan Raden Mambang (P. Jaya Dewa), sedangkan yang puteri bernama Puteri Galuh. Puteri Galuh setelah nikah dengan R. Sasteramalopa punya anak laki-laki yaitu bernama Raden Samudera. Wasiat dari Maharaja Sukarami bila wafat penggantinya adalah cucunya dari anak perempuannya ( Puteri Galuh ) yaitu Raden Samudera.  Keputusan itu diprotes oleh ketiga  anak lelakinya, sehingga terjadi kemelut. Raden Samudera berhasil diselamatkan dengan diasingkan sementara. Adapun yang menjalankan pemerintahan di Negeri daha adalah P. Mangkubumi dan P. Tomonggong, sedangkan Pangeran Balangan pindah ke daerah Brangas besama 2000 pengikutnya. Setelah P. Mangkubumi terbunuh, maka P. Tomonggonglah bertahta menjadi raja Daha, kemudian puteranya bernama Raden Bagawan dikawinkan dengan Puteri Dayang Saribulan ( anak Pangeran mangkubumi ).

Pergembaraan Raden Samudera sampai ke daerah Banjar, bertemu dengan seorang Patih bernama Patih Masih. Patih Masih sangat faham akan siapa Raden Samudera, kemudian ia dinobatkan sebagai Raja Banjar, dengan gelar Pangeran Samudera ( pendiri Kerajaan Banjarmasin ). Kerajaan Banjarmasin dalam waktu singkat menjadi besar, dan berhasil menyaingi kerajaan Daha. Kerajaan Daha di bawah Pangran Tomonggong kemudian mengerahkan pasukan hendak menyerang Banjarmasin, namun Pangeran Samudera tahu, dan juga mengrahkan pasukan di Bandar Muara Bahan. Sebagai persiapan perang, P. Samudera meminta bantuan Kerajaan Demak. Sultan Demak dengan senanghati menyanggupi dan mengirim bantuan militer, namun dengan perjanjian agar Pangeran Samudera dan rakyatnya masuk agama Islam. Setelah perang berakhir, Pangeran Tomonggong pun menyerahkan Negeri Daha pada Pangeran Samudera, kemudian penduduk Banjar dan Daha pun diIslamkan, di bawah Maharaja Banjar, Pangeran Samudera bergelar Sultan Suriansyah. Adapun Pangeran Tomonggong diberi tempat yang layak pula, yaitu di Batang Alay.

Sultan Suriansyah mempunyai 2 orang anak laki-laki, yaitu  yang tua bernama Sultan Rahmatollah ( yang kemudian menggantikan ayahnya senagai raja Banjarmasin), sedangkan yang muda bernama bernama Pangeran Anum dengan julukan Pangeran Dahangsana..
Setelah Sultan Rahmatullah wafat, maka digantikan puteranya bernama Sultan Hidayatollah, raja inilah yang kemudian menurunkan beberapa putera, di antaranya menurunkan raja-raja di Kotawaringin.



 KERAJAAN KOTAWARINGIN

Raja Kerajaan Banjar bernama Sultan Mustaillah, memiliki  4 orang putera dan seorang puteri, yaitu
Pangeran Adipati Tuha, yang menggantikan ayahnya menjadi raja Kerajaan Banjar, bergelar Sultan Innayatullah; Pangeran Adipati Anum; Pangran Antasari; Pangeran Adipati Antakusuma; dan Puteri Ratu Ayu.
Pada saat akan pergantian raja, terjadi persaingan antara  Pangeran Adipati Tuha dengan Pangeran Adipati Antakasuma. Namun persaingan itu dapat diselesaikan dengan perundingan. Pangeran Adipati Antakasuma dengan jiwa besar merelakan Kerajaan Banjar diperintah oleh kakaknya yaitu Pangeran Adipati Tuha, sedangkan ia sendiri mohon diri untuk pergi mendirikan kerajaan baru di daerah lain. Pangeran Adipati Tuha merestui kehendak adiknya, dan membatu menyiapkan perlengkapan perang, sandang, dan bekal untuk perjalanan yang jauh. Pangeran Adipati Tuha pun mendo’akan dan memberikan harapan sukses pada Pangeran Adipati Antakasuma dalam membangun kerajaan baru.

Rombongan Pangeran Adipati Antakasuma  berangkat dengan menggunakan perahu menuju ke arah barat. Daerah-daerah yang disinggahai antara lain  Sebangau, Mendawai, Sampit, Kampung Pembuang, Rantau Pulut, dilanjutkan dengan jalan darat sampailah ke daerah Pandau yang didiami oleh Suku Daya Arut. Terjadilah perundingan antara Suku Daya Arut dengan Pangeran Adipati Antakasuma, yang akhirnya terjadi saling pengertian dan persahabatan ( dengan pengorbanan di kedua belah pihak  pada Batu Petahan di Pandau . Suku Daya  Arut membantu dan mendukung usaha Pangeran Adipati Antakasuma beserta rombongannya.  Setelah itu keduanya menyatu, dan mencari daerah baik untuk didirikan kota kerajaan.  Sampailah di daerah Tanjung Pangkalan Batu, yang diyakini sebagai daerah terbaik, dan akhirnya mulai membangun perumahan di atas air, yaitu Lanting. Pada waktu membangun lanting itu, lahirlah puteri pangeran, yang kemudian dinamai Puteri Lanting. ( Hikayat Banjar dan Kotaringin.  143 – 153 )

Kerajaan Kotawaringin didirikan pada tahun 1679  di daerah Kotawaringin Barat saat ini ( sumber:  Mengenal Kabupaten Kotawaringin Barat, hlm.17 ).  Adapun raja pertamanya adalah  Pangeran Adipati Antakasuma bergelar Sultan Pangeran Adipati Antakesuma, yang kemudian setelah wafat dikenal dengan nama Ratu Kotawaringin. Sultan pertama ini beristeri Puteri Bekorong (anak Jendral Laut Armada Bargota bangsa Portugis) dan Isteri keduanya adalah Dayang Ruai atau Puteri Sari Banun anak dari Demung Silam Kutaringin yang bergelar Kyai Gedhe. Pada masa tuanya Pangeran Adipati Antakasuma ini bermukim di Kerajaan Banjarmasin hingga akhir hayatnya, kemudian dimakamkan di Quin Banjarmasin.

Putera Mahkotanya adalah salah satu anak dari isteri pertama yaitu Puteri Bekorong yang bernama Pangeran Amas atau Pangeran Mas Dipati dinobatkan sebagai raja yang ke 2 Kerajaan Kotaringin. Pemerintahannya berjalan lancar tiada gangguan. Setelah Pangeran Amas wafat, dimakamkan di Kotaringin, meninggalkan dua orang isteri yaitu Puteri Galuh Hasanah anak dari Pangeran Adipati Tapa Sana, dan lainnya adalah Puteri Kancip cucu Patih Batang Tapin –Lamandau. Adapun penggantinya sebagai raja yang ke 3 Kerajaan Kotawaringin ada informasi nama yang berbeda, yaitu menurut buku Mengenal Kabupaten Kotawaringin Barat, dituliskan nama pengganti Pangeran Amas adalah Pangeran Prabu. Akan tetapi, pada sebagian besar sumber yang lain (dari kerabat kerajaan ) dan juga sumber dari Silsilah Kekerabatan  dinyatakan bahwa pengganti Pangeran Amas adalah Pangeran Anum, sedangkan dari sumber Hikayat Banjar disebutkan bahwa raja ke 3 adalah Panambahan Kotaringin. Dalam Hikayat Banjar, dijelaskan bahwa nama Panembahan Kotaringin sebagai gelar Pangeran Anum ketika jadi raja.. Setelah dipertimbangkan kekuatan sumber yang digunakan, maka kecenderungan kuat, memang Pangeran Anum sebagai raja yang 3 Kerajaan Kotawaringin bergelar Sultan Pangeran Panembahan Anum ( adalah anak Sultan Pangeran Mas Dipati dengan isteri Puteri Galuh Hasanah puteri dari Pangeran Adipati Tapa Sana). Sultan Pangeran Panembahan Anum mumpunyai dua isteri, yaitu Puteri Nurmalasari anak dari Sultan Tahlillullah Banjarmasin, dan Puteri Campa anak dari Tengku Ahmad Barnabas dari kerajaan Terengganu. Adapun Pangeran Prabu dalam berbagai sumber silsilah ditempatkan sebagai raja yang ke 4 di Kotawaringin.

Setelah Pageran Anum wafat, sebagai penggantinya diangkat adalah Pangeran Prabu sebagai raja Kotaringin yang ke 4, adalah putera Sultan Pangeran Panembahan Anum dengan isterinya yang bernama Puteri Nurmalasari. Sultan Pangeran Prabu mempunyai dua isteri, yaitu Puteri Jematan anak Patih Mas Macan dari tanjung Beringin Lamandau, dan Puteri Kuncup anak Patih karang Batu dari Pagatan Mendawai. Setelah Pangeran Prabu wafat, maka yang dinobatkan sebagai raja Kerajaan Kotaringin adalah Pangeran Adipati Muda (menurut buku Mengenal Kabupaten Kotawaringin Barat), namun dari sebagian besar sumber disebutkan nama Pangeran Adipati Tuha  sebagai raja yang ke 5. Dalam  Hikayat Banjar disebutkan hal yang sama bahwa nama Pangeran Dipati Tuah sebagai raja yang ke 5.  Oleh karena sumber yang menyebut nama Pangeran Adipati Tuha atau Tuah lebih banyak dan lebih kuat, maka dapat disimpulkan bahwa  Pangeran Adipati Tuha lah sebagai raja Kotaringin yang ke 5, bergelar Sultan Pangeran Adipati Tuha ( adalah putera Sultan pangeran Perabu dengan isterinya bernama Puteri Jematan ). Sultan Pangeran Adipati Tuha beristeri satu yaitu Puteri Ratu Mangkurat anak dari Pangeran Purbaya dan cucu dari raja banjarmasin Sultan Tamjidillah.

Setelah Pangeran Adipati Tuha  wafat dimakamkan di Kotaringin, sebagai penggati raja adalah Pangeran Panghulu, kemudian diangkatlah sebagai sultan yang ke 6 Kerajaan Kotaringin yang bergelar Sultan Pangeran Penghulu ( 1711 – 1727 ).  Setelah Sultan Panghulu wafat dan dimakamkan di Kotaringin, maka diangkatlah puteranya yang bernama Pangeran Ratu Begawan sebagai sultan Kotawaringin yang ke 7 bergelar Sultan Balladuddin ( 1727 – 1761 ). Pada masa pemerintahan Pangeran Ratu Begawan atau Sultan Balladuddin, Kerajaan Kotaringin dikenal mencapai zaman keemasannya. Ia mempunyai seorang isteri bernama Puteri Amaliah.  Setelah sultan wafat, maka diangkatlah salah seorang puteranya bernama Pangeran Ratu Anum Kesumayudha ( Gusti Musaddam ) sebagai sultan ke 8 Kerajaan Kotawaringin bergelar Sultan Ratu Anum Kesuma Juda ( 1767-1805 ). Sultan ini beristeri dua, yaitu Puteri Nursani dan Ratu Syarifah anak dari Syeikh Abubakar al Habsyi.  Sepeninggal Pangeran Ratu Anum Kesumayudha, diangkatlah puteranya dari isteri Puteri Nursani yang bernama Pangeran Ratu Imanuddin ( Muhammad Imanuddin ) sebagai sultan yang ke 9 bergelar Sultan Pangeran Ratu Muhammad Imanuddin  (1805 – 1841 ). Sultan ini punya empat isteri, di antaranya puteri anak Sultan Mansyur  dari kerajaan Siak Indrapura, bernama Tengku Dara, yang kemudian bergelar Ratu Agung, sedangkan isteri yang lainnya adalah Ratu Puteri anak Pangeran Dipati Tapa Laksana, Ratu Nyai Jaminalh ( Ratu Ratnawilis anak Dambung Reksa Mancanegara Laman Mendomay dari Sungai kapuas ), dan Sun Bek Niu ( Ratu Nyai Joget anak Panglima Wang Kang ).  Pada pemerintahan Sultan Pangeran Ratu Imanuddin, kraton Kerajaan Kotaringin dipindahkan ke  Sukabumi, yang kemudian dikenal dengan Pangkalan Buun. 

Pada tahun 1841 Sultan Pangeran Ratu Imanuddin wafat, dikebumikan di Makam Kuta Batu Pangkalan Buun. Adapun penggantinya yang diangkat sebagai sultan ke 10 adalah Pangeran Ratu Ahmad Hermansyah ( anak dari istrinya yang bernama Ratu Puteri sebagai ibu Suri ), yang bergelar Sultan Ahmad Hermansyah, berkuasa sejak tahun 1841 – 1867 di Pangkalan Buun. Sultan ini beristeri Ratu Puteri Kemalasari, Gusti Onot ( cucu Sultan Sulaiman Banjarmasin ), dan Nyai Ratu Besar Cina ( dari Kelantan ).  Setelah sultan ini wafat, putera mahkota yaitu Gusti Muhammad Sanusi atau Gusti Anum Kesuma Yuda ( anak dari Ratu Puteri Kemalasari ) masih kanak-kanan, maka diangkatlah pamannya yaitu Pangeran Paku Syukma Negara ( anak Sultan Imanuddin dengan isteri  Ratu Nyai Jaminah ) sebagai sultan yang ke 11, bergelar Sultan Pangeran Paku Syukma Negara. Setelah menjabat selama 5 tahun, dan kemenakannya sudah dewasa, maka tahta kerajaan diserahkan kepada kemenakannya. Dengan demikian, maka Gusti Anum Kesuma Yuda naik tahta sebagai raja yang ke 12 bergelar Sultan Anum Kesuma Yuda.  Sultan yang ke 12 ini punya isteri bernama Ratu Agung anak dari pangeran Tumenggung. Oleh karena keturunan langsungnya hanya dua orang perempuan, yaitu Ratu Kuning dan Ratu Intan, maka terjadilah permasalahan di Kerajaan Kotaringi, sebab menurut Qanun Kuntara, yang berhak menjadi raja adalah laki-laki. Oleh karena itu,  sebelum wafat, Sultan Pangeran Anum Kusumayuda berwasiyat, bahwa untuk penggantinya ditunjuk cucunya bernama Pangeran Hermansyah ( anak dari Puteri Ratu Kuning).  Wasiyat ini juga telah disampaikan pada Gubernur Jendral Belanda di Batavia, dan  kepada Residen Belanda di Pangkalan Buun. Namun, setelah sultan wafat, terjadilah peristiwa antara adik-adik sultan dengan para menteri dan keamanan kraton, yang tetap berpegang pada wasiat almarhun Sultan Pangeran Ratu Anum Kasumayudha, yaitu tahta kerajaan akan diserahkan kepada  Pangeran Hermansyah ( yang pada waktu itu masih kanak-kanak ). Masing-masing saling menjaga agar konflik ini tidak sampai terjadi pertumpahan darah, maka pihak adik-adik sultan yang menginginkan tahta berusaha menggunakan strategi minta bantuan ke Negeri Jepang ( sebagai saingan Belanda dan diharapkan yang akan memiliki kekuatan di Asia Timur Raya ). Dari pihak yang menjaga wasiat sultan, kemudian untuk sementara mengangkat pejabat kerajaan ( wali dari sultan ), menurut adat adalah Pangeran Adipati  Mangkunegara yang kemudian bergelar Pangeran Mangkubumi. Untuk mencari penyelesaian konflik ini, berangkatlah Pangeran Mangkubumi ke Banjarmasin berhasil menghubungi pihak Belanda, sehingga Belanda mengutus Van Duve sebagai Kontroler Sampit untuk menjadi penengah di Kotaringin. Namun,  Residen Belanda mengambil kebijakan dengan mengumumkan, bahwa Gouvernement Belanda sekarang hanya mengenal keturunan dari Sultan Pangeran Ratu Imanudin saja. Oleh karena itulah pihak Belanda mengambil sumpah dan melantik Pangeran Paku Negara sebagai sultan Kerajaan Kotaringin dengan gelar Sultan Pangeran Paku Syukma Negara, sebagai sultan yang ke 12 ( sumber: JU Lontaan dan GM Sanusi, Mengenal Kabupaten Kotawaringin Barat., hlm. 37 ). Dengan demikian, maka Pangeran Paku Negara dua kali naik tahta Kerajaan Kutaringin, sehingga tahta yang terakhir ini adalah sebagai Sulta Kutaringin yang ke 13, bergelar sama ketika menjabat sultan yang ke 11, yaitu Sultan Pangeran Paku Syukma Negara. 

Sultan Pangeran Syukma Negara memerintah sejak tahun 1905 sampai dengan 1913 ( 8 tahun ), memiliki isteri bernama Ratu Sori Paku Negara ( anak Pangeran Adipati Antakesuma atau Gusti Maleh ), berputera tiga orang bernama, Pangeran Ratu Kasuma Alam alias Pangeran Bagawan, Pangeran Kalana Perabu Wijaya ( Gusti Mendomay ), dan Pangeran Panghulu ( Gusti Muhammad Zein ). Oleh karena putera mahkota menunjuk anaknya sebagai calon pengganti raja, sebagai pengganti Sultan Pangeran Ratu Syukma Negara, maka ditetapkanlah salah seorang cucunya, yaitu Pangeran Ratu Syukma Alam Syah ( putera dari Pangeran Ratu Kasuma Alam atau Pangeran Bagawan ), sebagai sultan Kotawaringin yang ke 14. Sultan Pangeran Ratu Syukma Alam Syah bertahta tahun 1913 – 1939. Ia beristeri Antung Dinar atau Ratu Seri Mahkota anak dari Raden Beranta, dan mempunyai anak sembilan  orang. Setelah Sultan ke 14 wafat, maka diangkatlah penggantinya yaitu Pangeran Muhammad, sebagai raja yang ke 15 bergelar Sultan Kesuma Anum Alamsyah, bertahta sejak tahun 1939 sampai 1948.  Sultan Pangeran ratu Kasuma Anum Alam Syah ini sampai sekarang masih dianggap sebagai sultan terakhir dari Kerajaan Kotawaringin. Sultan Kotaringin ke 15 ini punya isteri bernama Ratu Kemalasari, yaitu anak dari Bendoro Kanjeng Pangean Purboningrat ( putera Sunan Pakubuwana ke IX raja Surakarta hadiningrat ). Dari pernikahannya itu, memiliki putera dan puteri, : Pangeran Alidin ; Ratu Nur Ediningsih; Pangeran Arsyadinsyah; Pangeran Muazadinsyah; Pangeran Nuraruddinsyah; Pangeran Abidinsyah; Ratu Nur’aini; Ratu Nur Maulidinsyah; dan Ratu Saptinah.  Sultan Kesuma Anum Alamsyah pergi ke Jawa untuk mendukung Republik Indonesia, kemudian oleh Presiden Soekarno dijadikan pejabat pemerintahan di Surakarta, sampai akhir hayatnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar